[FREELANCE] Sena’s Storyline Troublemaker Couple

Fanfictiom indonesia exo bts wanna one

[Sena’s Storyline Troublemaker Couple] – Syammer

Subtittle: Rose Flower

Author: Syammer [Instagram: lutfia_syaika]

Main Cast: Oh Sehun – Hwang Nana

Genre: Romance, Au, & Friendship

Length: Oneshoot

Rating: Pg 18+

DISCLAIMER: THE PLOT IS MINE. HANYA TUHAN DAN AKU YANG TAHU.

NOTES: para reader yang tak ingin kepolosannya tercemar mohon skip saja.

copyright©syammer

 

 

 

Manhattan, March 8th 2018

Central Park. Ya. Dimana tempat untuk berkumpul bersama disaat waktu senggang, bersama teman, sahabat, teman kerja, kekasih, keluarga, istri dan suami bahkan anak-anaknya. Udara yang sejuk dan hawa yang hangat di musim semi. Bunga-bunga bermekaran menambah aroma harum semerbak, daun-daun mulai tumbuh subur. Matahari bersinar terang dan kini sudah menunjuk pukul 10.00 CDT. Banyak pendestrian berlalu lalang dan aktifitas pengguna jalan.

 

Sosok pria bertubuh tinggi tegap dengan wajah oriental, alis tajam menukik, mata elang, hidung mancung, bibir tipis merah muda dan rahang tirus tajam adalah perpaduan yang sempurna. Tampan. Bibirnya menyungging kulum saat manik elangnya menangkap sosok yang ia rindukan selama ini setelah ia mengedarkan seluruh penjuru taman. Pria itu berdiri disamping kursi taman sambil memandang wanitanya yang tengah sibuk berdiskusi dengan teman-temannya yang jauh beberapa meter dari ia duduk. Ia merogoh saku jasnya, mengotak-atiknya lalu menempelkan benda persegi itu ditelinganya.

 

 

“Aku ingin bouket bunga yang biasa aku pesan.” Ujar pria itu pada diseberang telepon dengan tersenyum tipis dan masih menatap sosok cantik disana. “Berikan bunga itu pada wanitaku sekarang.” Tutup perintah pria itu tanpa jeda dan langsung menutup sambungan tanpa permisi.

 

Pria itu. Oh Sehun yang tengah mengenakan tuxedo hitam dengan kemeja warna senada. Ya dia menyempatkan diri ingin menemui kekasihnya. O…. Ralat. Tunangannya maksudnya. Banyak pendestrian berjalan melewatinya hingga menoleh dua kali untuk kesekadar menatap wajah tampannya.

 

“Aku benar-benar merindukanmu, na…” gumamnya pelan.

 

Tak lama kemudian ia melihat seseorang membawakan bouket bunga pada wanitanya. Ia langsung mengeryit dahinya dalam saat melihat seorang pria memberikan bouket bunga itu pada wanitanya. Wanitanya sempat menatap bingung dengan bouket bunga itu tak lama wanita itu menerimanya. Pria itu pergi begitu saja meninggalkan mereka. Sempat ia tertunduk malu karena digoda oleh teman-temannya.

 

Selang beberapa detik kemudian Sehun mendapatkan panggilan. Dengan cepat ia melihat layar ponsel dan ternyata orang suruhnya. “Ya. Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu lagi.” Sehun langsung menutup sambungannya.

 

Gadis cantik perawakan Korea itu tengah berjalan bersama dengan sahabatnya menuju tengah taman sembari duduk dikursi kayu panjang yang menyatu dengan meja, mereka sibuk seperti mengetik sesuatu dilaptop, menulis, membaca, dan berbiara. Nampak berdiskusi mengerjakan tugas kampus. Gadis cantik bertubuh tinggi semampai namun mungil, hidung mancung mungil, kulit putih halus bak pualam saat dihujani sinar matahari pagi, manik hazelnya mampu membuat lawan jenis terpesona dan jangan lupakan tubuh s-line─nya. Ia lebih dominan saat mengerjakan diskusi. Seperti memberikan ide, pengarahan, dan sebagainya. Gadis itu. Hwang Nana. Dan sekarang Pasca Sarjana semester dua.

 

“Bagaimana pendapatmu, Nona Frankline?” Tanya Nana santai. Gadis yang dipanggil pun cemberut, Nana yang melihat ekspresi sahabatnya pun tersenyum geli namun gadis itu hendak membuka mulut untuk menyalangkan protes langsung dipotong oleh Nana.

 

“Aku hanya bercanda, Sarah.” Bujuknya. Ia tahu sahabatnya yang bernama Sarah tidak terlalu suka kalau saat memanggilnya dengan nama marga keluarganya langsung. Nana yang hanya menggelengkan kepalanya pelan.

 

“Hampir sempurna dan lebih sempurnanya lagi kita menggunakan stastistik saham yang bergemelut di dunia bisnis dalam presentasi besok.” tambah Sarah.

 

Tiba-tiba ada yang menyahut menambahi ucapan Sarah. Gadis itu. Bella Aston. “Kalau aku tidak masalah dengan tambahan dari Sarah tapi kita juga harus melakukan observasi juga agar tahu bagaimana detailnya investasi saham itu.” Timpal Bella sembari menoleh kearah sahabat yang satunya lagi. Dominique Kennedy.

 

Gadis itu menggaruk tengkuknya tak yakin setelah menulis semua kesimpulan dari pembicaraan semua sahabatnya itu. “Aku memang setuju dengan kalian…” ucap gadis itu menggantung. “Tapi seperti apa data statistik tersebut. Dari mana kita dapat data-data itu sebelum kita terjun langsung kedunia bisnis. Orang tua Dominique seorang designer. Orang tuaku anggota dewan. Sedangkan Sarah, orang tuanya seorang angkatan. Siapa lagi kalau bukan dirimu, Na?”

 

Yang lain mengangguk setuju terkecuali Nana nampak berpikir keras, ‘coba saja kulkas itu disini? Aku tak mungkin kebingungan seperti ini.’ Batin Nana berkeluh. Tiba-tiba ada tangan menyentuh bahunya pelan. Ia tersentak lalu menoleh pada seorang pria itu. Ia menatap bingung bahkan mengeryit dahinya dalam.

 

“Permisi. Ini untuk Nona.” Ucapnya sopan sambil memberikan bunga itu padanya. Nana dengan cepat mencerna ucapan ambigu dari pria itu. “Dari siapa?” Tanya Nana cepat. Pria itu tersenyum kulum lalu pergi begitu saja.

 

 

Ada bouket bunga mawar merah dan ada surat kecil disana ia pun tersenyum bahagia dan mencium aroma bunga itu. Ia membuka surat kecil disana dan membukanya.

 

My Honey

Today you are so beautiful

Kau tak merindukanku, love?

 

OHS

 

Ketiga sahabatnya langsung menjahilinya setelah membaca surat itu, “sepertinya dari pengagum rahasiamu lagi? Terlebih lagi hanya menyebutkan nama inisial saja.” Goda Bella. “Ugh… so sweet make me envy…” sahut Sarah masih menjahili Nana yang tertunduk malu. Nana tahu nama pengirim bunga itu membuatnya rindu ingin bertemu.

 

Sebenarnya ia ingin bertemu dengan sang pengirim bunga itu bukan bouket bunganya. Tak selang beberapa detik kemudian ponselnya berdering menginterupsi mereka dengan cepat ia merogoh ponselnya dan langsung melihat layar diponselnya senyuman pun berkembang dibibir mungilnya dengan cepat ia menempelkan benda persegi itu di telinganya setelah menggeser tombol hijau pada ponselnya.

 

“Sehun… aku merindukanmu.” Ucap Nana tiba-tiba. Tanpa menyapa sedikitpun pada Sehun. Nana mendengar Sehun terkekeh mendengar ucapannya beberapa detik yang lalu. Nana pun langsung dibully godaan dari ketiga sahabatnya.

 

Tanpa sepengetahuan Nana, Sehun sudah berdiri 5 meter dibelakang Nana. “Aku jauh lebih merindukanmu, sayang.” Balas Sehun dengan lembut. Ia tersenyum lebar melihat Nana digoda teman-temannya.  “Kau menyukainya?” tanyanya lagi.

 

“Sangat.” Ucap Nana dengan tersenyum lebar dengan mata berbinar. “Kau cantik jika tersenyum seperti itu.” Puji Sehun diseberang telepon.

 

“Hm?” Nana mengeryitkan dahinya saat mendengar ucapan Sehun sepertinya ia mengerti jika Sehun ada disini. “Kau dimana?” Tanya Nana langsung. Maniknya mengedar menyapu seluruh taman namun ia belum menoleh kebelakang. “Didekatmu sayang.” Jawab Sehun lembut. “Peka sekali.” Imbuhnya.

 

Nana langsung berdiri dan memutar kebelakang. Seketika manik hazelnya membola, alangkah terkejutnya melihat sosok yang menelponnya ada didepan matanya. Sehun tengah mengenakan tuxedo hitam dengan kemaja warna senada, rambutnya sedikit berantakan. Rasa rindu pun langsung menyeruak dirongga dada. Melihat Sehun masih menempelkan ponsel itu ditelinganya dengan tersenyum lebar.

 

 

Manik hazel itu pun berkaca-kaca, tanpa aba-aba ia langsung lari kearah Sehun meninggalkan sahabatnya kemudian menghamburkan pelukan erat pada leher jenjang Sehun. Pria itu sedikit terhuyung kebelakang karena pelukan Nana. Sontak membuat Sehun terkekeh dan membalas dekapan erat sang kekasih.

 

Sehun menenggelamkan wajah tampannya dibahu sempit Nana sembari menghirup aroma tubuh sang wanita begitu ia rindukan sekaligus memabukan. Nana terisak pelan tentu saja membuat Sehun merenggangkan pelukannya sayang Nana semakin mengeratkan pelukannya.

 

“Ada apa?” Tanya Sehun bingung.

 

“Aku merindukanmu.” Ucap Nana sekenanya. Sudah lama ia tak menghirup aroma tubuh Sehun yang menggoda indera penciumannya. Sehun pun tersenyum lebar hingga membentuk eyes smile. Sehun mengusap lembut puncak kepalanya penuh sayang. Sesekali Sehun memberikan kecupan dipelipis Nana.

 

Tak sengaja Sehun melihat ketiga teman Nana tersenyum kulum kearahnya. Melihat beberapa tumpukan buku dimeja dan laptop masih menyala. Sehun menunduk kemudian berbisik lembut ditelinga Nana.

 

“Teman-temanmu sudah menunggumu, sayang.” Sehun memberikan kecupan ringan ditelinga Nana. Gadis itu tersenyum dengan perlakuan kekasihnya. Perlahan Nana merenggangkan pelukannya sembari mendongak menatap Sehun yang tengah tersenyum lembut kepadanya.

 

“Terima kasih atas bunga yang selalu kau kirimkan untukku.” Ujar Nana dan Sehun mengangguk mantap sebagai jawaban. “Dan maafkan aku jika aku jarang memberimu kabar, aku super sibuk karena aku harus mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk lalu rapat dengan perusahaan-perusahaan lain. Aku lebih memilih mengalihkan perhatianku pada berkas-berkas dan tugas kuliah agar aku tak gila hanya karena merindukanmu.” Jelas Sehun. Bahkan terkadang Sehun memberikan list schedule beberapa bulan terakhir.

 

Nana tersenyum kulum mendengarkannya. “Maafkan aku tak memberimu kecupan selamat datang.” Ucap Nana spontan. “Apa karena disini tempat umum?” koreksi Sehun. Nana mengangguk mantap. Sehun pun tersenyum miring melihat respon Nana, “bukankah kau suka ku cium di tempat seperti ini?” goda Sehun. Rona merah dipipi Nana tak pernah luput dari penglihatan Sehun.

 

“Sehun!” pekik Nana menahan malu sambil memukul lengan Sehun. Pria itu sempat meringis dengan pukulan Nana. “Kenapa? Kau lupa disini Negara ‘bebas’, heum?” Tanya Sehun kalem sembari menarik pinggang Nana yang ramping merapat padanya, kedua tangan Nana menekuk memberi jarak didadanya.

 

Sehun mendekatkan wajahnya hendak mencium bibirnya sayang gadis itu dengan cepat membekap mulutnya sendiri seketika Sehun menghentikan pergerakannya. “Nanti!” tutup Nana tanpa jeda sambil membekap mulutnya sendiri.

 

Membuat Sehun tersenyum miring dengan tingkah laku Nana. “Promise?” Koreksi Sehun. Nana mengangguk pelan, “yes, of course.

 

“Sekarang… bantu aku mengerjakan tugas kuliahku. Aku kebingungan untuk yang satu ini. Dan hari ini aku berharap kau datang membantuku dan nyatanya kau datang. Aku benar-benar membutuhkanmu.” Ucap Nana. Perlahan Sehun menarik lengannya dari pinggang gadisnya setelah mendengar ucapan tadi.

 

Tiba-tiba ada suara nyaring menginterupsi mereka, “Nana fokus!” teriak Sarah memperingatkan. Nana pun terkekeh dan menghampiri para sahabatnya dan Sehun berjalan dibelakangnya.

 

“Sehun ini bagaimana?” Tanya Nana sembari menunjukan berkas ringkasan statistik saham pada Sehun. Sedetik setelah Sehun mendaratkan pantatnya dikursi. Sehun membaca satu persatu tulisan itu. Ia mengeryit dahinya. “Ada pensil? Ada yang salah disini.” Ujarnya sambil mengadah tangannya pada Nana. Dengan cepat gadis itu memberikan pensil itu pada Sehun, sayang pria itu malah memegang dan menarik lembut jemari Nana kearahnya. Sontak Nana mengeryit bingung saat Sehun menyodorkan berkas-berkas itu padanya kembali, “Ini jangan ditulis, sayang. Kau ingin perusahaan lain enggan bekerja sama dengan perusahaanmu.”  Sehun menunjukan dimana letak kesalahannya bahkan seromantis itu.

 

Ketiga sahabatnya mekikik melihat kedua pasangan didepannya. “Aku kan juga tak tahu seperti apa seharusnya proposal yang sebenarnya diperusahaanmu. Kau dari dulu sudah terjun langsung diperusahaan maka dari itu aku bertanya hal ini padamu.” Sanggah Nana sambil cemberut. “Tapi aku juga punya persyaratan jika kau mintaku untuk membantumu.” Timpal Sehun.

 

“Heol!” Nana mendengus mendengar persyaratan Sehun.

 

“Diperusahaan mana mungkin yang ingin merugi, sayang. Aku menerapkan simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan.” Ujar Sehun santai. Nana memutar malas bola matanya. “Licik sekali!” gerutu Nana.

 

Sehun tersenyum miring mendengar gerutuan Nana. “Bagaimana? Deal?” tawar Sehun. Nana juga tak ada pilihan lain selain menerima tawaran Sehun. “Ya. Ya. Aku setuju.” Ujar Nana ketus. “Apa persyaratannya? Ciuman panas? Tidur seranjang? Bercinta?” Tanyanya lagi. Sehun tersenyum miring mendengar ucapan Nana ceplas-ceplos tak memandang situasi dan kondisi saat ini.

 

Para sahabatanya menatap Nana tak percaya setelah mendengar ucapannya. “Persyaratanku memang itu. Lalu…” Sehun menggantungkan ucapannya, “…memangnya kau siap kita melakukan point yang ketiga, heum?”

 

Nana menggelengkan kepalanya mantap, “tidak.” Jawab Nana singkat. Nana ingin cepat selesai tugas kuliahnya dan Sehun menambahi lagi. Siapa yang tidak marah. Membuatnya pusing tujuh keliling dan Sehun sekarang terlihat sangat menyebalkan. Sehun menghela napasnya. “Baiklah, aku akan membantu tugasmu yang satu ini.” Balas Sehun datar sembari menjelaskan cara menggunakan data statistik saham.

 

{|{|

 

Sehun dan Nana berada di Battery Park untuk jalan-jalan setelah tiga puluh menit perjalanan dari Central Park. Nana hanya diam menatap kesal kekasihnya, mungkin karena Sehun digoda Sarah. Terlebih lagi Sarah mirip sekali dengan Miranda Kerr, Idola Sehun. Ia duduk dikursi kayu bersebelahan dengan Sehun yang juga menatapnya heran.

 

Sehun mendesah pelan, “sayang… kau ini kenapa?” Tanya Sehun bingung sedari tadi Nana hanya diam. ‘Kenapa masih bertanya?!’ batin Nana kesal. “Sungguh menyebalkan!” ucap Nana spontan.

 

Ne?” Sehun semakin bingung dengan sikap Nana.

 

Nana semakin kesal dan berucap spontan dari mulutnya, “bagaimana rasanya digoda Miranda Kerr versi muda, eoh?” Sehun mengerap pelan saat mendengar ucapan Nana sembari mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut Nana.

 

Perlahan senyuman itu menyungging miring yang berpeta dibibir Sehun, lengan kiri berada dibelakang kepala Nana dan tangan lainnya mengarahkan dagu Nana padanya. “Are you jealous?” Tanya Sehun kalem, sontak manik hazel itu membelalak samar. “Je-jealous? No!” elak Nana gugup dan langsung mengalihkan pandangannya dari Sehun.

 

Really? What you say. I am not believe it.” Lanjut Sehun. “Bahkan sekarang kau tak berani menatapku.”

 

Nana pun memberanikan diri menatap Sehun yang tengah tersenyum miring. “Katakan, aku cemburu.” Ulang Sehun. Nana mendelik dengan ucapan Sehun dan langsung menepis tangan kekasihnya dari dagunya.

 

I’m not—hmmp!” seru Nana terpotong karena Sehun mendaratkan kecupan diatas bibirnya dan bergerak melumatnya sedikit kasar. Manik hazel membola saat Sehun memberikan kecupan itu dan perlahan maniknya pun terpejam.

 

Sentuhan Sehun sukses membuat syarat bibirnya lumpuh seketika dan kupu-kupu terasa terbang diperutnya. Sedangkan Sehun tersenyum disela kecupannya saat melihat respon Nana. Hanya selang 10 detik perlahan Sehun melepaskan tautan bibirnya secara sepihak dan tangannya masih menangkup sisi wajah Nana seperti kepiting yang overcook. Ia tak tahan untuk tidak mencium seluruh wajah Nana. Dari kening, kedua kelopak mata, hidung, lalu kedua pipi dan terakhir bibirnya. Manik hazel itu pun terbuka lebar dan sebenarnya ia malu dan menghamburkan pelukannya pada Sehun.

 

Sehun terkekeh melihat tingkahnya. “Aku tahu kau sedang cemburu bahkan mendiamkanku sedari tadi.” Ucapanya. Nana malah menyerukan wajahnya dileher jenjang Sehun sembari menghirup semua aroma tubuh Sehun yang selalu menggoda indera penciumannya. Sehun hanya tersenyum tipis melihatnya.

 

“Bolehkah aku menginap di apartemen Kevin?” tanyanya tiba-tiba. Nana pun mengadahkan kepalanya untuk menatap Sehun sembari menyandarkan kepalanya dibahu lebar kekasihnya, jarak mereka begitu dekat sangat memudahkan Sehun menggapai bibir Nana yang menggoda itu. “Bukankah Kevin sedang keluar kota?” Tanya Sehun lagi.

 

Nana mengeryitkan dahinya, “dari mana kau tahu kalau Kevin diluar kota padahal aku tak memberitahumu sama sekali?” Tanya Nana berdalih menyembunyikan keterkejutannya. Pertanyaan Nana tentu saja membuat gelak tawa Sehun, “apa kau sedang meremehkan calon suamimu?” ujar Sehun dingin dan serius tidak ada raut kebohongan disana. Nana tersenyum miring sembari mencari kebohongan disana. Sayang ia tak menemukannya diwajah tampan itu.

 

Nana kembali menyerukkan wajahnya di cerukan leher Sehun. “Kau sekarang semakin protective sekali padaku?” gerutunya sambil terkekeh dipelukan Sehun. “Aku hanya takut kau diambil orang, itu saja.” Timpal Sehun datar. Kedua lengan kekar itu semakin mengeratkan dekapannya ditubuh mungil dan ramping itu.

 

Nana tersenyum merasakannya. Terlintas dibenaknya dengan cepat ia merenggangkan pelukan Sehun ditubuhnya. “Kau disini ada pertemuan rapat?” Tanya Nana penasaran sembari menatap Sehun.

 

Sehun tersenyum kulum, perlahan jemari besarnya membelai lembut sisi wajah Nana. “Semakin hari kau semakin cantik, sayang.” Puji Sehun tiba-tiba. Perlahan rona merah muda pun mengunjungi wajah Nana.

 

Sialan! Pria ini benar-benar memujinya disituasi yang tidak tepat sama sekali. ‘Jawabanmu jauh dari topik Oh Sehun!’ batin Nana menggerutu. Tapi ia memakluminya kalau pria yang ada dihadapannya merindukannya. “Berapa lama kau disini?” Tanya Nana lagi.

 

“Membuatku tidak sabar untuk menikahimu.” Goda Sehun. Sengaja memang. Nana pun mendengus sebal mendengar jawaban Sehun. “Sepertinya kau penasaran sekali?” Tanya Sehun saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Nana.

 

“Tentu saja. Siapa tahu kau akan pergi setelah ini. Mungkin saja kau sudah siap-siap untuk check-in dibandara.” gerutu Nana kesal. Sayangnya Sehun menangkap nada sedih disana, mencegahnya untuk pergi. Dengan Nana ekspresinya cemberut namun tanpa sadar airmatanya jatuh tanpa ia sadari.

 

Wae-waegurae?” Tanya Sehun panik saat air mata Nana jatuh dilekukan pipinya sembari mengusap lembut jejak airmata Nana dengan jemarinya. Nana hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Kau menyebalkan.” Ucap Nana sekenanya. Bahkan airmatanya tak bisa berhenti mengalir, “aku masih merindukanmu, Oh Sehun.” imbuhnya dengan nada bergetar seketika Sehun mendekapnya kembali namun kini lebih erat.

 

Sehun mengusap lembut punggungnya dan berucap, “Menangislah sepuasmu, sayang.” Membuat Nana terisak pelan dan mengeratkan kedua lengannya dileher Sehun. Nana masih terisak dipelukannya. “Aku disini hanya tiga hari, sayang. Aku sangat menyayangkan hal itu, sebab itu aku ingin menginap di apartement Kevin. Bersamamu.” Sehun akhirnya menjelaskan semuanya. Walaupun Sehun masih bermonolog, berharap Nana mendengarkan dan mengerti hal itu.

 

“Belum lagi besok aku ada rapat lagi di World Trade Center. Aku benar-benar sibuk tiga hari ini…” Ia melirik jam tangannya sudah menunjukan pukul 12.30 CDT. “Satu jam lagi aku akan kembali bekerja melanjutkan meeting. Aku akan pindah keapartementmu sekarang. Aku mempunya satu jam untukmu, sayang.” Tambahnya sembari merenggangkan pelukannya. Melihat Nana sudah mereda. “jangan menangis, cantikmu bisa hilang.” Goda Sehun sambil mengusap lembut jejak airmata Nana.

 

Tanpa ampun Nana langsung memukul dada Sehun, “AW!” pekik Sehun sembari meringis sakit atas pukul Nana. Sehun mengusap bekas pukulan super dari Nana dengan sayang sembari beranjak berdiri dengan salah satu tangannya mengulur dihadapan Nana. Gadis itu senyum tipis sembari meraih jemari Sehun yang nampak besar dan begitu pas menggenggam tangannya.

 

Sehun menariknya dan membawanya pergi entah keman. “Kita check-out dari hotel tempat penginapanku. Lalu kita ke apartementmu.” Nana hanya menggangguk mengerti mendengar ucapan Nana.

 

Setelah beberapa saat perjalanan dari hotel, kini mereka berdua sudah di apartement. Tepatnya Nana masih menyiapkan makanan didapur. Dan Sehun seperti biasa mengganggu kegiatan Nana. Kedua lengan kekarnya membelenggu pinggang ramping Nana dari belakang. Bagaimana tidak jika Sehun tergoda, ia hanya bermodalkan kemeja putih menerawang yang menenggelamkan tubuhnya bahkan salah satu kerah kemeja itu melorot memperlihatkan bahu sempitnya yang mulus dan skirt flare warna hitam setengah paha. Sehun sendiri mengenakan setelan hitam dengan kemeja putih menambahkan kadar ketampanannya, dasinya sedikit longgar, rambutnya ditata memang sedikit berantakan.

 

“Aku harus kembali bekerja, sayang.” Bisik Sehun ditelinga Nana. Sesekali mengecup leher dan bahu sempit yang begitu mulus itu jadi manuvernya, sentuhan Sehun benar-benar menggoda tak pelak Nana menggelinjang dibuatnya.

 

“Bisa tidak kau tak memecahkan konsentrasiku?” protes Nana dalam kungkungan Sehun. Sang kekasih terkekeh pelan mendengar protes dari gadisnya dan melihat jemari lentik itu mematikan kompornya.

 

“Aku merindukanmu, Hwang Nana…” bisiknya sembari mengecup pelipis Nana. Gadis itu hanya berdeham sebagai jawabannya. “Makan dulu.” Potong Nana saat Sehun hendak membuka mulutnya dan membalikan tubuhnya menghadap Sehun. “Apa kau tadi sudah sarapan?” tanya Nana lagi dan mendapatkan anggukan pelan dari pria itu. “Have lunch?” tanya Nana sekali lagi. Sehun hanya menatap Nana dalam diam dan salahkan sorot manik elang jatuh dibibir itu. “Sehun?!” pekik Nana pelan.

 

Namun hendak berfantasi liar langsung buyar dengan pekikan Nana, “belum. Kau sama sekali belum memberiku ‘makan siang’.” Jawab Sehun ambigu. “Itu sudah kubuatkan untukmu.” Sahut Nana santai sambil menunjukan makanan sudah tersaji dengan rapi diatas piring di meja makan.

 

Sehun mendengus pelan, karena Nana tak mengerti keinginannya. Nana mengamati perubahan ekspresi Sehun perlahan ia mengerti sembari mengalungkan kedua lengannya memenjarakan leher Sehun. Senyuman menyeringai pun tersungging dibibir sang pria dengan kedua lengannya langsung bertengger indah dipinggangnya, “makan dulu makan siangmu yang sudah kusiapkan di meja. Aku tak ingin kau jatuh sakit, Oh Sehun. Tubuhmu juga perlu nutrisi agar tetap fit. Kalau ‘makan siang’ yang kau maksudkan, nanti saja.” Ujar Nana datar perlahan menarik tangannya dari leher Sehun.

 

Lihat Sehun pun menurut dengan ucapan Nana sembari menarik lengannya dari pinggang Nana. Walau setengah hati. Sehun pun perlahan memakan masakan Nana, gadis itu membuat makanan kesukaannya dan duduk dikursi kosong sebelah wanitanya. Nana tersenyum lembut melihat Sehun makan begitu lahap. Sehun yang merasa dipandangi ia pun menolehkan wajahnya menangkap sosok cantik yang sedang menyangga dagu dengan salah satu tangannya.

 

Nana sedikit terkejut melihat Sehun tiba-tiba menyuapinya. “Makanlah.” Perintah Sehun. Ia hanya menggeleng pelan. “Aku diet, Sehun.” Aku Nana. Respon Sehun langsung menaikan sebelas alisnya. Sehun mendengus mendengarnya. “Dan kau melewatkan jam makanmu? Karena diet?” tanya Sehun tidak suka dan langsung menaruh kembali sendok itu dipiring. “Aku gemuk,  Sehun!” seru Nana dan langsung beranjak berdiri didepan Sehun.

 

Apalagi ekspresi Nana yang cemberut dengan mengembungkan kedua pipinya tak pelak membuat Sehun menyudahi makan siangnya sembari terkekeh. “Kemarilah.” Perintahnya sambil mengulurkan tangannya untuk Nana. Gadis itupun meraih tangannya lalu menariknya mendekat. Nana melihat Sehun sedang menghabiskan air minumnya lalu menaruhnya kembali di atas meja. Kini pandangannya sepenuhnya mendongak menatap Nana yang cemberut.

 

Perlahan ia beranjak berdiri hingga kepalanya menunduk menatap Nana. Tangannya bergerak merangkul pinggang ramping Nana. “Gemuk dari mana, sayang? Tubuhmu itu semakin berisi bukan gemuk. Beberapa tahun yang lalu tubuhmu memang kurus. Tapi sekarang tubuhmu jauh indah, sayang. Kau tak perlu melakukan program diet untuk menguruskan tubuhmu. Kau hanya perlu makan teratur yang bergizi, tidur teratur, olah raga teratur. Itu saja. Untuk menjaga berat dan bentuk tubuhmu.” Jelas Sehun memberi pengertian pada Nana.

 

“Tapi tubuhku berat, Oh Sehun.” Nana masih menyanggahnya. “Kau tahu…” Sehun menggantungkan ucapannya. “Apa?” tanya Nana langsung karena penasaran. “Pria suka dengan wanita dengan tubuh berisi dan sintal.” Ujar Sehun seduktif dan sekali gerakkan tubuh Nana sudah melayang diudara dalam gendongan Sehun.

 

Memang akui tubuh Nana sedikit berat namun kenyataannya sangat nyaman untuk dipeluk. Sehun menjatuh tubuhnya disofa dan Nana duduk dipangkuannya. “Sayang, sekarang berikan aku ‘makan siang’ yang sesungguhnya. Agar bateraiku penuh lagi.” Tangan Nana masih menyampir dileher Sehun. Nana menautkan bibirnya diatas bibir tipis itu melumatnya penuh rindu dan sedikit kasar. Sehun tersenyum disela ciuman itu bahkan Sehun mengimbanginya menggigit bibir bawah Nana pelan agar mendapatkan akses masuk menginvasi rongga mulut Nana dan mengajak berperang lidah disana.

 

Tangan Sehun bergerak nakal menggerayangi tubuh Nana, jemari besar itu perlahan membuka seluruh kancing kemeja yang dikenakan Nana sedetik kemudian masuk mengelus punggung mulus Nana naik turun sukses membuat Nana melenguh. Tangan Nana juga tidak tinggal diam membelai seduktif dada Sehun, jemari lentik itu juga membuka kancing kemeja hitam milik Sehun.

 

Tiba-tiba ada suara ponsel Sehun berdering nyaring menginterupsi kegiatan panas mereka. Sehun melepaskan tautan bibirnya dengan Nana sukses membuat gadisnya melenguh. Keduanya perlahan membuka mata masing-masing dan saat membuka mata mendapati suguhan pemandangan yang luar biasa. Kemeja putih Nana setengah melorot mempertontonkan bahunya yang mulus dan mengenakan bra berenda warna hitam dan rok hitam yang tersingkap keatas. Sedangkan Sehun, jas sudah tertanggal ditubuhnya. Kemeja tak terkancing seluruhnya dan sedikit kusut. Dasinya menggantung asal di lehernya dan rambut hitamnya berantakan.

 

Sehun menyeringai, “sepertinya kita harus menunda kegiatan kita… kau benar-benar membuatku ingin mengajakmu bermain diatas ranjang nanti malam, sayang.” Gumam Sehun melihat penampilan Nana yang begitu berantakan seperti itu.

 

Nana mendengus pelan. “aku belum jadi istrimu, Oh Sehun! Mana mungkin aku menuruti keinginanmu yang satu itu.” Gerutu Nana terkesan protes, tangannya hendak membenarkan kemejanya namun tangan Sehun menahannya.

 

“Biarkan seperti itu.” Cegah Sehun lembut dan kalem sembari merapat dicerukan leher Nana mengecup dan menjilatnya. Nana yang hendak protes padanya langsung menegang dipangkuannya.

 

“Aahh…” desahan Nana pun menyapa indera pendengaran Sehun. Pria itu tersenyum lalu wajahnya menurun dibelahan dada Nana dan memberikan kecupan seduktif disana. Dengan cepat Sehun menarik wajahnya dan menatap Nana seduktif mendapati Nana merona disana. Sehun pun mengangkat tubuh Nana agar duduk disampingnya.

 

Tak lama ia beranjak berdiri sembari membenarkan kemeja dan dasinya. Jemarinya menyisir rambutnya agar sedikit rapi kemudian ia mencondongkan tubuhnya dan salah tangannya mengambil jas-nya yang berada dibelakang tubuh Nana dan memberikan kesempatan untuknya mencium sekilas bibir mungil itu.

 

Sehun menyeringai setelah memberikan kecupan mesra padanya Nana yang sedang membenarkan kemejanya, “rapikan pakaianmu, sayang. Sampai jumpa nanti malam.” Pamit Sehun meninggalkannya sendirian diruang tengah.

 

{|{|

 

Kini sudah menunjukan pukul 07.00 pm CDT. Langit pun berselimut satin hitam, musim semi membuat angin malam semakin sejuk. Seorang gadis cantik di ruang tengah nampak menunggu kabar sang kekasih sudah berulang kali gadis itu menatap ponselnya namun nihil tak ada pesan masuk bahkan panggilan masuk sekali pun.

 

Nana menekukan wajahnya, “kau bahkan lupa dengan hari ulang tahunku. Sungguh jahat.” Gerutu Nana tak jelas. Tiba-tiba suara interkom berdering, membuatnya mendesah pelan. Ia pun beranjak berdiri dari sofa dimana tempat ia meringkuk sedari tadi.

 

Ia melihat dari interkom, ada beberapa kurir membawa beberapa paperbag dan kotak kado lalu yang lainnya membawa beberapa bunga bouket mawar merah dengan ukuran besar. Nana terkejut setengah mati. Dengan cepat ia membuka pintu apartement itu. Ia melihat salah satu dari kurir itu nampak mengenakan setelan. “Nona, dimana kamar anda? Kami disuruh Tuan Oh Sehun menaruh barang-barang ini dikamar Nona.” Pria itu. Jaehyun namanya. Asisten Oh Sehun.

 

Nana hanya mengangguk cepat. Akhirnya Nana membuka jalan untuk orang-orang itu untuk masuk kekamarnya dan Nana juga mengikuti kurir-kurir itu untuk mengamati gerak-geriknya. Beberapa detik kemudian salah satu dari kurir itu memberi sebuah tanda terima padanya.

 

“Nona segeralah bergegas. Supir sudah menunggu anda dibawah untuk mengantar anda ketempat dimana Tuan Oh memesan tempat.” Ujar Jaehyun formal memberitahu

 

. “Saya permisi dulu.” Pamitnya.

 

Orang itu meninggalkan Nana sendirian lagi diruangan itu namun dengan cepat ia masuk kekamarnya. Kamarnya penuh dengan bouket bunga mawar. Senyuman pun tersungging dibibir mungil itu. Manik hazelnya mengedar, ia melihat beberapa paperbag dan sebuah kotak kado berwarna hitam berpita emas, nampak elegan dan anggun bersamaan. Dengan cepat ia menghampiri kotak itu yang teronggok indah diatas ranjangnya.

 

Perlahan ia membuka penutup kotak itu, ia melihat sebuah gaun hitam disana namun ada buah kertas merah terlipat rapi diatas gaun itu. Ia mengambil sebuah kertas itu dan membacanya,

 

My lovely sweetheart

Datanglah ketempatku

Kenakan dress yang kuberikan untukmu.

 

Sehun

 

Senyuman Nana semakin mengembang. Ia meletakan sembarang kertas itu dan salah sata tangan mengambil dress itu. Nana langsung melesat kekamar mandi untuk mandi sebentar dengan air hangat. Tak selang  sepuluh menit, Nana sudah keluar mengenakan dress pembelian Sehun yang nampak pas ditubuhnya. Sepuluh menit ia berberias. Maniknya melihat beberapa paperbag disana. Ia dengan membuka semuanya. Sepasang stilleto hitam, satu set perhiasan simpel namun terkesan mewah dan handbag hitam senada dengan dress yang ia kenakan.

 

 

Dengan cepat ia mengenakan stileto itu lalu perhiasan itu dan memasukan ponsel, cermin kecil, dan dompetnya kedalam handbag-nya. Tak lupa ia menyemprotkan parfum aroma musk ditubuhnya. Nana pun ber­gegas keluar dari apartement dan melihat sebuah mobil mewah warna hitam berhenti didepannya. Dengan cepat ia masuk kedalam mobil dan membawanya entah kemana.

 

Tak selang lama, dari kejauhan ia melihat Sehun berdiri didepan restoran itu. “Stop! Berhenti disini saja. Aku ingin jalan kaki.” Ucap Nana menghentikan sopir yang mengendarai mobil itu.

 

“Tapi Nona—”

 

“Tolong berhenti disini.”

 

“Baiklah.” Sopir itu pun menghentikan laju mobil itu, Nana pun turun dari mobil. Ia melihat mobil itu bergerak meninggalkannya sendirian. Nana pun jalan kaki, ia melihat Sehun masih melihat jalan sesekali melihat sudah menunjukan pukul 08.45 pm CDT. Ia pun tersenyum melihat Sehun beberapa meter darinya dan mengarahkan kamera ponselnya pada Sehun tanpa pria itu ketahui dan mengambil gambar Sehun beberapa kali.

 

 

Ia melihat Sehun mengenakan setelan hitam dan kemeja warna putih tak lupa salah satu tangannya menggenggam erat bouket bunga mawar merah. Nana tersenyum melihatnya beberapa gadis menoleh dan senyum mekikik saat melewatinya. Nana pun melangkah menghampiri Sehun yang sudah menunggunya. Hingga akhirnya manik mereka bertemu.

 

Sehun tertegun melihatnya. Nana masih melangkah mendekatinya hingga suara merdu memanggil namanya, “Sehun…”

 

Nana berhenti tepat setengah meter dari hadapan Sehun. “Kau cantik sekali.” Puji Sehun langsung. Rona merah muda langsung menyerbu wajah Nana yang begitu cantik. “Dan sexy…” imbuh Sehun mengerlingkan salah satu matanya.

 

Sehun menyerahkan bouket bunga mawar itu pada Nana, “ini untukmu, sayang.” Ujarnya sambil merangkul Nana.

 

“Terima kasih.” Ujar Nana malu-malu sambil menerima bunga itu sedetik kemudian Nana mengecup kilat pipi Sehun. Sang pria membeku sejenak dengan apa yang dilakukan Nana. Perlahan ia tersenyum menarik Nana masuk kedalam restoran mewah itu.

 

Setelah Nana dibantu Sehun duduk, pria itu hanya tersenyum tipis sedari tadi bahkan ia tak bosan menatap Nana. “Sehun—berhenti menatapku seperti itu!” panggil Nana namun ia malah salah tingkah sendiri. Namun Sehun hendak berucap menyahut ucapan Nana waiters pun datang menghampiri mereka dan bertanya, “Tuan, anda pesan apa?”

 

Ia melihat list menu itu namun sekilas menatap Nana yang tersenyum melihat list menu itu ia pun menutup buku menu itu. “Samakan saja.” Tuding Sehun dengan dagunya pada Nana. Waiters itu beralih pada Nana yang sedang membolak-balik list menu itu. “Aku ingin makanan favorit disini.” Ujarnya.

 

“Anda pesan apa lagi, tuan?” tanya waiters itu lagi. “Aku pesan yang tadi.” Ujar Sehun.

 

“Baik, Tuan.”

 

Sehun melihat waiters itu pergi kemudian menatap Nana kembali yang tengah mengotak-atik ponselnya.

 

“Kau sangat cantik mengenakan dress itu dan seharusnya aku membelikanmu gaun yang lebih terbuka.” Pujinya tiba-tiba sekaligus menggoda Nana. Gadis yang digodanya langsung menatap Sehun berang.

 

“Dan hanya menutupi bagian tertentu.” Sahut Nana kesal. Sehun mengangguk hikmad. “Why not?” katanya. “Akan lebih memukau jika kau yang mengenakannya.”

 

Sang wanita hanya mendengus kesal. “Jika aku mengenakannya itu sama halnya aku melancarkan otak mesummu, Oh Sehun.” Ucap Nana ketus. “Wajar seorang pria dewasa berpikiran hal seperti itu.” Sahut Sehun santai dengan ekspresi tanpa berdosa, membuat Nana ingin sekali menjambak rambut pria yang ada dihadapannya.

 

Sehun suka ekspresi Nana yang cemberut seperti itu. Sehun juga penasaran dengan kehidupan Nana di Manhattan sekarang. Pasti banyak pria yang mencoba mendekatinya. “Berapa banyak pria yang suka padamu?” Tanya Sehun tiba-tiba.

 

Nana menoleh pada Sehun yang menatap lurus sedikit tajam kearahnya, ia juga bingung tiba-tiba Sehun bertanya soal pria padanya. Padahal ia sudah sering bercerita padanya. Manik hazel itu menyapu seluruh ruangan klasik itu sembari berpikir. ‘Kalau tidak salah ada sepuluh…’ batin Nana ragu. Perlahan ia mengangkat sepuluh jari tangannya dihadapan Sehun. Pria itu langsung mendelik lebar, “what?? Sepuluh?” ulang Sehun tak percaya. Nana mengangguk. “Iya. Sepuluh pria yang menyukaiku.” Nana membenarkan.

 

Nana mengamati perubahan ekspresi Sehun yang mulai tidak suka. “Katakan siapa saja pria itu?” Sehun mulai menginterogasinya. Apalagi tatapan tajam dari manik elang itu semakin membuatnya ciut ditambah ekspresi Sehun sangat dingin. Sehun menutupi rasa cemburu yang ingin meledak.

 

“Bisa tidak kau menatapku biasa saja dan sungguh tatapan matamu membuatku takut, Sehun.” Ujar Nana sedikit ketakutan. “Katakan saja, sayang.” Balas Sehun dengan kata dinginnya.

 

“Lu-lukas, Thomas, Alan, Andy, Bens…” ujar Nana gugup sembari menggantung kalimatnya. “James, Jonh, Christian, Mike, dan…” Nana kembali menggantungkan kalimatnya. Ia mengamati Sehun yang masih tetap dingin. “Dan?” ulang Sehun.

 

Senyuman miring pun tersungging dibibir mungil Nana lalu melanjutkan kalimatnya sembari ingin sekali melihat perubahan ekspresi Sehun saat setelah mendengar ucapannya, “Terakhir… Oh Sehun. Ya. Pria itu sangat tampan membuatku kembali jatuh kedalam pelukannya. Dan tolong katakan padanya kalau aku sangat-sangat mencintainya. Hatiku sudah dibawa lari olehnya. Jadi… tidak ada kerjaan yang lain selain… mencintainya.”

 

Sehun yang mendengarkan pernyataan cinta dari Nana langsung membeku ditempat, tak bergerak dan juga tak menanggapi. Apa jantungnya masih bernapas? Tentu saja. Namun jantungnya berdetak tidak seperti biasanya. Berdetak lebih keras. Desiran darah mengalir deras didalam tubuhnya hingga memenuhi wajah tampan. Wajah Sehun pun merona dibuatnya.

 

Nana sengaja memang, ia sendiri sudah lama tak melihat wajah memerah dari Sehun. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Sehun setelah ini. Ia beranjak berdiri lalu melangkah menghampiri Sehun dan duduk dipangkuan Sehun sembari memberikan kecupan sekilas dibibir Sehun. Nana malah memenjarakan leher Sehun dengan kedua lengannya. Sehun perlahan tersenyum miring sembari mengeratkan pelukannya. Nana tersenyum dalam ciuman itu. Tiba-tiba suara pintu VIP itu terketuk sendiri. Kegiatan mereka pun terinterupsi dan sembari melepaskan ciuman mereka lalu Nana beranjak berdiri dari pangkuan Sehun dan membenarkan penampilanya ia pun kembali duduk dikursinya.

 

Beberapa saat kemudian Nana melihat beberapa waiters membawa pesanannya dan kue tart. Tunggu! Siapa yang pesan kue tart coklat stroberi? Ia juga tidak pesan.

 

Waiters itu menaruhnya dimeja tepat dihadapannya. Waiters itu satu persatu pergi. Meninggalkan mereka berdua. “HappyDay, My Queen!” ujar Sehun mengucapkan selamat padanya. “Make your wish, babe.” Perintah Sehun dan ia mengangguk mengikuti perintah Sehun. Ia menangkupkan kedua tangannya didepan dada dengan mata terpejam dan Sehun tak melewatkan moment indah itu. Ia mengabadikan ulang tahun Nana dan mengunggah di akun pribadinya.

 

“Tiup lilinnya, sayang.” Nana langsung meniup lilin-lilin kecil itu. Sehun bertepuk tangan sembari mencium pelipis Nana. “Nana, kau semakin hari semakin cantik semakin dewasa semakin aku mencintaimu dan membuatku tak sabar untuk mengajakmu berdiri altar mengikat sebuah janji dengan Tuhan.” Ucap Sehun mengeluarkan uneknya yang tertaman dibenaknya selama ini sambil mengelus lembut sisi wajah Nana.

 

Ucapan Sehun membuatnya tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa tersenyum haru mendengar ucapan kekasihnya. Ia melihat keseriusan ucapan dan kata-kata Sehun. “Dan aku ingin kau berjanji untuk menjaganya agar tak ternodai sedikitpun.” Imbuhnya. Nana mengangguk sedetik kemudian menatap Sehun bingung.

 

“Maksudnya?” tanya Nana bingung. Sehun tersenyum menyeringai. “Apa kau benar-benar sepolos ini?” tanya Sehun balik. “Haruskah aku menjelaskan dengan detail?” tanya Sehun lagi. Nana langsung merona dengan ucapan Sehun.

 

“Hun-ah! Bagaimana aku tak bisa menjaganya? Bagaimana orang itu yang melakukannya yakni kau sendiri?” tanya Nana, sengaja memang. Tapi ia juga ingin tahu jawaban Sehun.

 

Sehun menyeringai semakin jelas dibibirnya. “Kau ingin aku yang melakukannya malam ini?” tanya Sehun. Berbanding terbalik dengan Nana malah cemberut mendengar pertanyaan Sehun. Lalu menggeleng mantap. “Tidak.” Tolak Nana.

 

“Rasanya akan sama saja jika kita melakukannya sekarang bahkan setelah kita menikah kelak, tidak ada bedanya. Dengarkan aku baik-baik… aku ingin benar-benar merasakan ‘first night’ setelah kita menikah.” Celetuknya tanpa berpikir panjang. Membuat Sehun tersenyum lebar.

 

“Benarkah?” goda Sehun. “Aku akan menantikan hal itu, sayang.” Nana langsung memukul pelan lengan Sehun. Seketika wajah Nana seperti kepiting rebus.

 

Hening.

 

“Sehun…” panggil Nana lirih. Sehun hanya menatapnya dan menunggunya melanjutkan ucapannya. Nana hanya menggigit bibirnya sebenarnya ada rasa kekhawatiran menghinggapi benaknya sejak ia pindah Manhattan. Ia takut Sehun berpaling darinya dan ia takut ada wanita lain yang mengganti posisinya dihati Sehun. Ia tak tahu itu.

 

“Ada apa, sayang?” tanya Sehun lagi.

 

“Aku…” Nana membuka mulutnya sayang tertahan ditenggorakannya. “Katakan saja. Jangan ragu!” Sahut Sehun.

 

“Aku mengkhawatirkanmu…” ujar Nana lirih. Apa Sehun tidak salah dengar? Tak biasanya Nana mengkhawatirkannya ia pun tersenyum tipis sembari bertanya, “apa yang membuatmu mengkhawatirkanku?”

 

Nana terdiam lagi membuat Sehun semakin bingung dengan tingkah Nana, “Sehun… kita pulang saja, ya?” Ajak Nana tiba-tiba.

 

Sehun menatap Nana bingung. “Pulang? Bahkan makanan yang kau pesan belum kau sentuh sama sekali, Nana.”

 

Nana menggoyangkan tangan Sehun pelan sembari menariknya dengan raut sendu yang berpeta diwajah cantiknya. “Ku mohon, Sehun.” Tingkah Nana semakin membuat Sehun bingung.

 

“Baiklah kita pulang sekarang.” Ujar Sehun sembari menarik Nana ke kasir lalu bergegas keluar setelah melalukan pembayaran.

 

Sehun langsung membuka pintu mobil untuk Nana, gadis itu nampak terkejut melihat kursi penumpangnya terdapat bouket mawar lagi. Sehun tersenyum kulum sembari mengambilkan bouket itu lalu memberikan bunga itu pada Nana yang nampak tersenyum paksa.

 

Sehun sendiri tak tahu dan tak mengerti yang mengubah mood Nana jadi seperti ini. Nana masuk kedalam mobil dan Sehun juga menyusul sembari menyalakan mesin mobilnya beberapa detik kemudian mereka entah kemana. Ia melirik jam yang melingkar ditanggannya yang masih menunjukan pukul 08.30 pm CDT.

 

Sepanjang perjalanan Sehun dan Nana hanya diam. Sehun pun mendesah pelan, “maaf… tadi aku tak menghubungimu sama sekali.” Ucap Sehun memecahkan keheningan. Nana pun menoleh pada Sehun, “tidak perlu, aku tahu kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu.” Sahut Nana. Ia merasa bersalah karena mendiamkan Sehun sedari tadi.

 

“Aku ingin berbicara banyak hal denganmu dirumah, Oh Sehun. Diluar membuatku sangat tidak nyaman.” Sahut Nana. Sehun pun tersenyum mengerti dan menuruti kemauan Nana sambil mengacak puncak kepala Nana.

 

Nana langsung menepis tangan Sehun, “tatanan rambutku bisa rusak, Oh Sehun.” Protes Nana sambil bersungut.

 

Tak lama mereka pun sampai diapartement Kevin, mereka memarkirkan mobil dibasement. Sehun keluar terlebih dulu kemudian membukakan pintu untuk Nana dan membantu kekasihnya. Mereka memerlukan beberapa menit untuk sampai ditempat tujuan. Hingga akhirnya tiba dilantai apartement itu.

 

Sehun kembali menatap Nana yang kembali lesu dengan cepat menggendongnya ala bride style menuju kamar Nana. Untung kamar Nana tak tertutup rapat sehingga dengan mudah ia masuk kekamar kekasihnya. Perlahan Sehun berjalan menghampiri ranjang Nana yang ditata sedemikan rupa saat Nana pergi bersamanya.

 

“Kita tidak menikah, kan?” goda Sehun tiba-tiba saat merebahkan tubuh Nana diatas ranjang. Nana hanya menggeleng pelan. “Aku bahkan tak memiliki seprai satin warna merah maroon seperti ini.” Celetuknya.

 

Namun dengan cepat Sehun menindih Nana yang berada dibawah kuasanya. Bahkan mereka belum sedikit melepas sepatu yang mereka kenakan. Tangan Nana bergerak melepaskan dasi yang bertengger ketat dileher Sehun. “Kau ingin berbicara tentang apa hingga membuatmu khawatir denganku?” Tanya Sehun datar. Nana pun mendengus.

 

“Bisa tidak membiarkanku bergerak bebas diranjang, Oh Sehun?” tiba-tiba Nana protes. Sehun malah tersenyum lebar sembari menggeleng mantap. “Tidak. Aku suka posisi seperti ini.” Tolak Sehun dan Nana langsung memutar bola matanya malas.

 

“Mesum!” umpat Nana spontan. Sehun malah terkekeh mendengar umpatan kekasihnya itu, “wajar seorang pria normal bila sedang dikamar berdua dengan kekasihnya.” Sahutnya.

 

Nana mendengus keras, “jangan membuatku marah padamu, Oh Sehun. Berhentilah bermain-main.” Ucap Nana ketus sembari memperingatkan Sehun.

 

Sehun pun menjatuhkan tubuhnya disamping Nana seraya menempatkan lengannya untuk Nana bersandar. “Kau sedang PMS?” Tanya Sehun mendekap erat tubuh Nana.

 

Gadis itu hanya menggeleng. “Aku sudah mendapatkannya seminggu yang lalu.” Sehun hanya tersenyum miring mendengarnya.

 

“Bukankah kau sekarang dalam masa suburmu?” Tanya pria itu. Nana yang berada didalam pelukan lelaki itu ia mengerutkan dahinya. Lalu merenggangkan pelukan hanya untuk menatap wajah lelaki itu. ‘Kenapa pria ini menanyakan hal itu?’ batin Nana bertanya bingung.

 

“Hm? Wae?” Tanya Nana penasaran ditambah lagi senyuman Sehun sangat misterius. Kenapa perasaannya semakin tak enak saat tatapan Sehun mulai intens padanya. Hening beberapa detik hingga suara baritone itu bersuara, “jika aku yang melakukannya pasti akan mendapatkan hasilnya.” Ucap Sehun ambigu.

 

“Apa maksudmu dengan ‘melakukannya’ dan ‘mendapatkan hasilnya’?” Tanya Nana lagi. Sehun malah diam seribu bahasa semakin membuat Nana bingung dengan ucapan Sehun. Pria itu memberikan ciuman dalam padanya dan kembali bergerak menindihnya. Hingga beberapa saat ciuman itu terlepas.

 

Hidung mereka masih bersentuhan bahkan deru napas mereka saling menerpa. Sekali gerakan Nana sudah berada diatas tubuh Sehun, “Omo!” pekik Nana terkejut sembari menekukkan tangannya didada Sehun. Namun saat hendak beranjak dari atas tubuh pria itu namun Sehun malah mengeratkan lenganya.

 

Ia berusaha beranjak tetap saja tak bisa bergerak sedikit pun, Nana mendengus pelan sembari menatap sebal wajah tampan yang berada dibawahnya. Dilihatnya senyuman pria itu semakin lebar, “dan sekarang katakan apa yang membuatmu khawatir denganku.” Dikte Sehun to the point.

 

Ia pun menghela napas panjang namun ia tak yakin dengan pertanyaan yang akan dilontarkan tapi disisi lain ia takut kehilangan. “Ku mohon jawab pertanyaanku dengan jujur, Oh Sehun.” Sehun hanya diam dan mengangguk mantap. “Iya.” Nana mengamati raut Sehun mulai serius disana. Ia juga mempersiapkan diri dengan apa yang dikatakan Sehun setelah ini.

 

“Sehun…” panggil Nana lirih. Namun ada nada ketakutan disana. “Apa… kau memiliki wanita lain di Seoul?” Tanya Nana mencicit.

 

Apa Sehun tidak salah dengar dengan pertanyaan Nana yang sungguh diluar dugaannya. Ia memang sedikit terkejut tapi ia masih mempertahankan ekspresinya. Terlintas dibenaknya untuk mengerjai Nana.

 

Sehun tersenyum miring sembari menjawab dengan santai, “Iya. Aku memang memiliki wanita lain selain dirimu.” Sehun mengamati perubahan ekspresi Nana. “Benarkah?” Tanya Nana semakin lirih. Hatinya seketika runtuh, hancur saat mendengar jawaban Sehun. “Iya. Dia sekarang dirumah bersama anakku.” Sehun menyahut lagi. Serasa disambar petir disiang bolong, aimata itu mengumpul dipelupuk matanya yang ingin mendesak keluar namun masih ia tahan. Hatinya serasa pecah berkeping-keping.

 

Sebenarnya Sehun tak tega mengerjai Nana sekejam ini. “Sehun, aku yang salah meninggalmu saat itu hingga membuatmu perpaling dariku dan kau harus tahu karena aku masih mencintaimu, Oh Sehun!” pekiknya dengan bergetar karena menahan airmatanya yang tanpa bisa tahan pun terjatuh bebas.

 

“Siapa nama istrimu, Oh Sehun-ssi? Pasti beruntung sekali wanita itu?” Tanya Nana melembut dengan nada bergetar menahan sakit dengan luka menganga lebar bahkan Nana memanggilnya dengan formal. Sehun merasa bersalah melihat Nana seperti ini.

 

“Oh Chae Young.” Jawab Sehun singkat. Nama wanita itu adalah nama ibu Sehun sendiri. “Pasti orangnya sangat cantik.” Sahut Nana sekenanya, ia tak bisa berpikir lagi tentang nama wanita itu. Sehun hanya diam menatap Nana.

 

“Sehun…” panggilnya lirih. Putus asa. “Aku tak bisa lagi mengharapkan lebih darimu. Mungkin hari ini adalah hadiah terakhirku bersamamu. Dimana hari terakhirku melihatmu. Aku akan mengubur semua kenangan kita selama empat tahun ini yang pernah mengisi hari-hariku bersamamu. Aku sangat berterima kasih untuk itu semua. Oh Sehun. Mantanku yang―hmmp.” Ujar Nana lirih terpotong dengan ciuman yang mendadak. Sehun sendiri yang mendengarkan ucapan Nana serasa jantungnya ikut mencelos. Ia benar-benar keterlaluan mengerjai Nana. Ia harus minta maaf pada Nana.

 

Dan hal inilah yang ia takutkan, kehilangan Sehun untuk selamanya. Airmatanya luruh seketika saat bibir mereka menyatu. Dan ini adalah ciuman perpisah mereka yang sebenarnya, menurut Nana tapi tidak untuk Sehun. Dengan cepat Sehun melepaskan ciuman mereka dan menggulingkan tubuhnya Nana disampingnya dan mendekapnya.

 

“Kau benar-benar tak tahu Oh Chae Young itu siapa?!” Tanya Sehun tiba-tiba dengan nada menuntut. Nana yang berada dipelukannya langsung mendongak menatap Sehun yang Nampak kesal padanya. Nana hanya menggeleng pelan tak bisa berpikir.

 

Sehun malah mendengus, “kau benar-benar wanita itu siapa?!” tanyanya lagi. Dengan nada yang sama. Ucapan Sehun memaksanya untuk berpikir keras. “Itu istrimu, kan?” Tanya Nana sekenanya.

 

Sehun malah frustasi dengan jawaban Nana. “Tolong berpikirlah!” Perintah Sehun lagi. Nana menggeleng pelan. “Aku tidak bisa berpikir, Sehun-ssi. Semakin aku memikirkannya semakin sakit hatiku.” Ujar Nana semakin melantur. “Kau sudah milik orang lain. Dan apa hakku memikirkanmu? Aku salah jika memikirkan suami orang.” Sahut Nana sekenanya dengan tatapan kosong kearah Sehun.

 

Sehun hanya bisa menelan pahit mendengar ucapan Nana. “Oh Chae Young istri Oh Jin Hyuk. Kau tak kenal dua orang itu?” Tanya Sehun lembut pada Nana yang kembali ia dekap. Perlahan Nana berpikir, ‘Oh Chae Young istri Oh Jin Hyuk?’ batin Nana bertanya pada dirinya sendiri berulang kali. Hingga manik hazelnya membulat seketika mendongak menatap Sehun yang sedari tadi menunduk menatap.

 

“Itukan?” sahut Nana kikuk. “Oemmonim.”

 

Sehun menghela napasnya, “yang kau pikirkan itu apa, eo? Bahkan…” Sehun menggantungkan kalimatnya sembari mengangkat tangan kiri menunjukkan dimana jemari manisnya terlingkar cincin pertunangan mereka. “―bahkan cincin ini masih dijariku. Siapa yang menikah dengan Oh Chae Young kalau bukan Oh Jin Hyuk, Hwang Nana? Mana mungkin aku menikahi ibuku sendiri dan melahirkan anakku?” Sehun melanjutkan ucapannya dengan nada sedikit kesal.

 

Manik Hazel itupun mengerjap tak percaya seketika membulat sempurna merasa dibohongi Sehun. “Kau sedari tadi hanya membohongiku?” Tanya Nana langsung naik pitam dan sisi lain ia merasa lega. Sehun pun langsung menyengir dan menangguk mantap.

 

“Oh Sehun!” pekik Nana langsung menjambak rambut Sehun. “Kau pikir aku tidak sakit apa mendengar ucapanmu tadi? Dan sedari tadi kau hanya mengerjaiku?! Membuatku menangis. Sialan! Ku pikir kau benar-benar sudah menikah. Brengsek!”

 

“Aw! AMPUN!” Sehun meringis kesakitan. “Aku minta maaf!” Nana yang mendengarkan ucapan minta maaf pun melepaskan jemarinya dari rambut Sehun.

 

“Jahat! Kejam!” pekik Nana dan kembali menangis namun dengan cepat ia mengusap airmatanya dengan punggung jemarinya.

 

Sehun menyengir namun hanya beberapa detik pria itu sudah mengubah ekspresinya menjadi dingin dan serius. “Dengarkan aku baik-baik… aku hanya mengucapkan sekali jadi buka telingamu. Jika kau sekali lagi mengucapkan kalimat perpisahan diantara kita, aku tak segan-segan untuk menghamilimu dan menyeretmu ke Seoul lalu menikah disana. Aku tak peduli kau sekolah disini bahkan sekalipun kau membenciku.” Ancam Sehun. Namun ini terdengar ancaman yang tidak bisa anggap Nana remehkan.

 

Nana pun terperangah mendengar ancaman Sehun dan tak percaya dengan ucapan Sehun yang baru saja keluar. “You’re mine.” Ujar Sehun dingin dan datar.

 

Deja vu pun menghampiri dibenak Nana saat mendengar kalimat itu. Dimana saat Sehun dengan dirinya berdiri digerbang sekolah menengah atas. Ia sangat kesal dikala itu saat dirinya dijodohkan dengan Sehun. Saat itu Sehun mengenakan kacamata hitam. Mereka membolos diatap sekolah dan berciuman dalam. Bahkan Sehun waktu itu menolongnya, mengobati lukanya akibat bekas tamparan Mark dan berciuman panas dimobil. Katakan pada Nana untuk berhenti berfantasi liar! Berhenti memikirkan waktu SMA.

 

Nana tersenyum malu memikirkan hal itu. Tak luput dari pandangan Sehun. “Apa yang sedang kau pikirkan, sayang?” Tanya Sehun mengelus pipi Nana dengan lembut yang sudah semburat merah.

 

Nana tersenyum kikuk, “hanya saja…” Nana menggantungkan kalimatnya. “Hanya saja?” ulang Sehun. Ditambah Sehun senyum separo membuatnya semakin merona. Nana langsung bersembunyi didada Sehun. “Kau ini lucu sekali.” Celetuk Sehun melihat tingkah lucu dari Nana sembari terkekeh pelan.

 

Sehun mengadahkan dagu Nana kearahnya hingga tatapan mereka bertemu, “hanya saja apa, sayang?” lanjut Sehun dengan nada kalemnya. Sempat Nana gugup ditatap Sehun seperti itu langsung menutup matanya bahkan rona merah mudanya masih enggan pergi. ‘Sialan kau Oh Sehun! Membuatku jadi salah tingkah begini!’ umpat Nana dalam hati.

 

Nana masih menutup rapat matanya sembari berucap, “mengingatkanku—hmmpt.” Ucap Nana terpotong karena Sehun memberinya kecupan singkat. “Hei! Kalau bicara itu harus melihat mata lawan bicaranya. Bukan seperti ini.” Sahut Sehun setelah melepaskan kecupannya.

 

Nana langsung membuka matanya menatap Sehun cemberut sembari memanyunkan bibirnya. “Hey, kenapa kau memaju-majukan bibirmu, eo? Kau ingin lagi? Yang lebih lama?” tanya Sehun menggoda Nana.

 

Tangan sang gadis langsung mencubit perutnya, ia meringis akibat cubitan itu. “Aku tidak jadi bercerita! Mesummu kambuh lagi!” Nana merajuk sebal sembari merenggangkan pelukan Sehun. Ia beranjak dari ranjangnya. Meninggalkan Sehun disana.

 

Sehun pun juga beranjak dari ranjang dan hanya berdiri dipinggiran ranjang, manik elangnya melihat Nana berdiri didepan meja rias untuk melepas perhiasaan yang ia kenakan sekarang. Nana berdiri membelakanginya dengan bebas ia bisa melihat lekuk tubuh Nana dari belakang. Sehun sendiri harus menelan salivanya sendiri bagaimana tidak Sehun untuk menahan diri untuk tidak menyerang Nana saat ini. Nana mengenakan gaun hitam backless berlengan dan sedikit memperlihat belahan dadanya terpantul jelas dicermin itu. Entah dorongan dari mana Sehun melangkahkan kaki panjangnya menghampiri Nana yang masih setia didepan cermin. Membuat Sehun tak tahan untuk tidak memeluknya, sebelumnya ia sudah melepaskan jas hitam yang ia kenakan dan hanya berbalut kemeja putih dengan tiga kancing tak terkancing dan celana hitam panjang. Tiba-tiba….

 

GREPP…

 

Nana tersentak saat merasakan punggungnya terasa hangat dan nyaman bahkan menempel didada bidang Sehun dengan lengan kekar itu mengurung pinggangnya. Ia merasa pelukan Sehun semakin erat, tak hanya itu Sehun menenggelamkan wajahnya dibahunya yang sempit. Sehun juga melakukan aktifitas lain dilehernya sebelah kanan dan sekarang gantian disisi lehernya kiri. Manik hazelnya tak sengaja melihat pantul dirinya dan Sehun nampak jelas disana, rona merah mulai menyebar diwajahnya.

 

“Sehun hentikan!” Nana mencoba menghentikan kegiatan Sehun sayangnya pria itu malah meneruskannya.

 

Saat bersamaan Kevin pun tiba diapartementnya, sempat ia terkejut melihat dapurnya. Maksudnya bak cuci piring penuh dengan bunga mawar merah segar. Tak lama ia mendengar Nana memekik tertahan dalam kamar. Terlebih lagi ia mendengar Nana menyebut nama seseorang. Ia penasaran, melangkahkan kakinya menuju kamar Nana.

 

Ia melihat pintu sedikit terbuka dan melihat dari celah. Ya. Ia sempat terkejut tertahan melihat pemandangan yang luar biasa. Dimana Sehun mengurung Nana dibawah kuasanya dengan menghujami ciuman panas. Perlahan Kevin menyeringai dengan pelan ia menutup itu tanpa mengusik mereka. ‘Pasti seru menggoda mereka saat bangun tidur.’ Batin Kevin bersemangat untuk menggoda sejoli itu yang tengah dirundung rindu.

 

{|{|

 

Keesokan hari, Nana bangun lebih awal. Ia merasakan lengan kekar membelenggu perut ratanya. Ia menoleh kesamping mendapati sosok tampan yang masih tertidur lelap dengan wajah polosnya, melihat Sehun tengah shirtless dan kemeja yang dikenakan tadi malam sudah berpindah ditubuh dan menenggelamkan tubuh rampingnya sembari mendengar dengkuran halus dari kekasihnya tapi kenapa malah semakin mengeratkan pelukannya.

 

Morning, babe.” Sapa Sehun serak dengan nada lembut tapi sayang manik elangnya masih enggan membuka. Nana hanya diam tak menjawab. Ia lebih suka menatap wajah tampan yang mengajaknya bicara. Sehun yang tadinya menunggu jawaban Nana. Rasa penasaran yang begitu tinggi hingga memilih membuka matanya dan mendapati tatapan lembut dari manik indah itu yang mampu membuatnya berulang kali jatuh kedalam pesonanya.

 

“Kenapa kau sangat begitu cantik dikala bangun dari tidur indahmu, sayang?” puji Sehun sekaligus bertanya pada Nana. Gadis itu tersenyum perlahan rona merah tak teralakan. “I’m so lucky to have you. Sudah pintar, cantik, imut, sexy dan pintar masak memasakan makanan favoritku.” Nana pun merona saat jemari Sehun membelai lembut sisi wajahnya dengan tersenyum penuh arti padanya. “Je t’aime” bisiknya lembut.

 

Nana semakin tersenyum lebar, “kau pikir aku tak tahu arti pernyataanmu tadi? Aishitemasu, Sehun-kun.” Balas Nana antusias.

 

Beberapa detik kemudian Sehun bertanya, “bukankah ini pasta?” saat mencium aroma masakan. “Berarti Kevin Oppa sudah datang.” Celetuknya namun sedetik kemudian membulatkan matanya terkejut. “Mawarnya?” tanya Nana baru teringat sekarang. “Nanti ku belikan lagi kalau mawarnya dibuang.” Jawab Sehun enteng.

 

Nana bergerak melepaskan tangan Sehun yang sedang memeluknya. “Kau mandi dulu! Hari ini masih hari Jum’at bukan hari minggu. Aku akan menyiapkan pakaianmu.” Tegur Nana.

 

“Bagaimana ‘morning kiss’ terlebih dulu?” tawar Sehun bernegosiasi.

 

Nana menggeleng mantap dengan mengangkat jari telunjuk kanan dan menggerakan kekiri kekanan. “Tidak untuk hal itu jika kau bermalasan seperti ini.” Tolak Nana mantap. Sehun tersenyum miring mendengarkan jawaban Nana. “Baiklah kalau kau menolaknya dan aku akan menagihnya setelah mandi.” Sahut Sehun datar.

 

“…apa?” Nana bingung dibuatnya. Senyuman simetris di bibir tipis itu dan meninggalkan Nana disana yang masih menatap punggungnya hingga hilang dibalik pintu kamar mandi.

 

“Kau semakin menakutkan saat mesummu kambuh dari pada kau marah-marah tak jelas padaku.” Gerutu Nana sembari menoleh pada koper milik Sehun sembari menyiapkan setelan untuk Sehun. Setelah itu ia dengan cepat mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya.

 

Beberapa saat kemudian, ia menoleh kearah sumber suara sedetik kemudian sosok tampan keluar dari persembunyian yang hanya mengenakan handuk putih yang melilit dipinggangnya. Rambut basah dan shirtless. Abs terbentuk sempurna diperutnya nampak begitu kuat, keras dan liar membuatnya ingin menyentuhnya sekali lagi. Nana tersadar menelan salivanya sendiri. Gugup dan malu. Ia ingin mengalihkan pandangannya dan salahkan manik indah itu yang tak bisa diajak kompromi.

 

Sehun yang baru keluar melihat Nana terpaku melihatnya. Ide jahil terlintas dipikirannya, seringaiannya tersungging dibibir tipis itu. Ia melangkah menghampiri Nana yang duduk dipinggiran ranjang. Gadis itu masih terduduk tak bergerak hingga gadis itu mendongak menatapnya. Sehun menelengkan kepalanya dengan senyuman miringnya. “Berdirilah.” Perintah Sehun dengan seraknya.

 

Nana yang tersadar langsung menaikan alis sebelahnya, “untuk apa?” tanya Nana datar dengan cepat, ia beranjak duduk sembari berjalan melewati Sehun untuk pergi kekamar mandi.

 

Namun hendak melangkah salah satu tangannya ditarik paksa oleh Sehun membuat Nana berbalik dan alangkah terkejutnya Sehun memberikan serangan mendadak. Nana menekukkan kedua tangannya diatas dada Sehun yang telanjang itu. Salah satu tangan pria itu ditengkuk dan satunya lagi dipinggang Nana. Sehun semakin memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman panas mereka. Kini kedua lengan Nana berpindah dilehernya sembari menarik tengkuknya. Sang pria tersenyum disela ciuman mereka.

 

Sehun sedikit mengangkat tubuh Nana dan membawanya kekamar mandi, mereka berdiri dibawah shower. Perlahan Sehun melepaskan ciuman yang sebenarnya setengah hati merelakannya, ia juga takut hilang kedali. Ia membuka manik elangnya dan melihat mata Nana masih tertutup rapat, namun ia tak tahan untuk mencium kedua pipi Nana secara bergantian. Namun salah satu tangannya memutar keran shower yang berada dibelakang Nana.

 

Guyuran air shower pun menghujani tubuh mereka. Nana langsung menjengit terkejut tiba-tiba air mengguyur puncak kepalanya. Sehun menyeringai, sedetik ia melangkah mundur sembari mengusap wajahnya yang basah. Ia melihat piyama Nana yang tipis basah karena air sehingga kemeja itu melekat sempurna ditubuh Nana dan pakaian dalam yang gadis itu kenakan terlihat dengan jelas.

 

“Bagaimana kita mandi bersama?” goda Sehun bersamaan dengan kedua tangan memblokir pintu kaca shower itu. Nana langsung mendelik garang saat menatap Sehun. ‘Sialan! Kenapa pria ini jadi sexy begini?’ batin Nana bertanya. “Tidak.” Tolak Nana mentah-mentah sembari menutup keran shower itu.

 

Sehun tersenyum miring seraya melipat tangan didada. “Sungguh?” tanya Sehun kalem sembari memangkas jarak diantara mereka. Nana dilihatnya nampak gugup, senyuman itu semakin lebar saat Nana melangkah mundur dan menabrak dinding. Kedua tangan Sehun beralih mengurung Nana. Gadis itu menelan salivanya pelan. Ia tak pernah melihat penampilan Sehun yang seperti ini. Jujur saja ia sedikit gugup.

 

“Ma-mau apa kau?” tanya Nana gugup sedikit mendongak menatap Sehun. “Menurutmu bagaimana, sayang?” tanya Sehun balik.

 

Nana mencoba untuk tenang disituasi seperti ini. “Aku mau mandi.” Ucap Nana datar. “Kau mandi saja.” Sahut Sehun.

 

Nana menjengitkan sebelah alisnya, “kau tak keluar?” tanya Nana bingung. “Melihatmu mandi.” Sahut Sehun dengan tampang tak berdosa.

 

Manik hazel itu langsung melebar sempurna dengan kalimat yang dikatan Sehun. “MWO—?!” pekik Nana tertahan karena jari telunjuk Sehun menempel dibibirnya. “Aku memberimu pilihan.” Tawar Sehun tiba-tiba. Nana mengeryit bingung sekaligus waspada dengan ucapan sang kekasih sembari menunggu ucapan pria itu. “Full-naked or half-naked?”

 

MWO?!” apa ia tidak salah dengar. Pilihan macam apa itu? Nana juga tak habis pikir dengan jalan pikiran namja itu. “Sialan kau, Oh Sehun!” umpat Nana berang. Sehun malah tersenyum lebar mendengar umpatan Nana. “Atau aku yang memilihkannya untukmu?” tawar Sehun.

 

Nana menatap horor Sehun. “Okay! Now, I’m dress off half naked but you go out!” tutup Nana tegas.

 

Sehun tersenyum misterius, “Okay. After your dress off.” Sahut Sehun. “I wanna see your body, honey.”

 

Nana langsung bergidik ngeri mendengar ucapan Sehun. “Kau seperti penjahat sex.” Sahut Nana ketus.

 

Just do it fast, babe!”

 

“Berbaliklah.”

 

“Untuk apa aku berbalik?”

 

“Oh Sehun!!!”

 

Shireo! Atau aku yang melepaskan semuanya?” ancam Sehun. Nana mendelik langsung menjambak rambut Sehun.

 

Alhasil pria itu memekik kesakitan, “AW! Sakit! ARGGHHH!!!!!” pekik Sehun. “Handukku mau lepas, Nana!” seru Sehun dan seketika Nana menarik tangannya dari rambut Sehun.

 

Gadis itu langsung berbalik agar tidak melihat pemandangan yang tak terduga dan berdiri membelakangi Sehun. Sang kekasih mempererat lilitan handuknya sembari melihat reaksi Nana membuat tersenyum miring dan nyeri dikepala perlahan menghilang.

 

“Buka bajumu, sayang.” Perintah Sehun lembut. ‘Ini akan lama jika aku tak menurutinya. Tapi aku tak mau!’ batin Nana bingung. Sehun tak melihat reaksi Nana membuatnya mendengus kesal. “Ku mohon, Nana.” Sehun memohon sedikit putus asa. “Hari ini hari terakhirku di Manhattan, sayang. Turuti kemauanku yang satu ini. Aku tak bisa janji untuk datang padamu, ke Manhattan.”

 

Nana sedikit terkejut langsung membalik menatap Sehun. Ia menatap Sehun begitu tersiksa diwajah tampannya. “Jangan bercanda, Oh Sehun.” Sergah Nana. Sehun hanya diam, sedikit kecewa karena Nana tidak menuruti kemauannya dan berlalu meninggalkan Nana sendirian.

 

“Lanjutkan acara mandimu.” Ujar Sehun datar sedetik kemudian menghilang dibalik pintu kamar mandinya dan Nana melihat ekspresi Sehun membuatnya sedikit bersalah.

 

Satu setengah jam Sehun keluar dari kamar dengan senyuman miring saat Nana memekik kesal padanya. Ia melihat sarapan pagi sudah tersaji rapi diatas meja dan melihat seorang pria didapur dan tak ialah Kevin.

 

Hyung! Apa kabar?” sapa Sehun dan melihat Kevin menoleh sekilas kearahnya sambil tersenyum miring. “Seperti kau yang lihat…” Sahut Kevin.

 

Sehun melihat Kevin sedikit keropatan ia pun melepas tuxedo dan dasinya dikursi dan memakai apron yang menggantung disebelah lemari es. Ia melipat lengan kemejanya hingga kesiku. “Kau sedang apa, hyung? Bisa aku bantu?” Tawar Sehun datar. Kevin mengangguk mantap. “Kau bisa membuat spagetti? Aku kerepotan membuat masakan korea karena kekasihku memintaku untuk memasakannya.” Ujar Kevin.

 

Sehun manggut-manggut. “Dimana bahannya?” tanya Sehun.

 

“Disebelahmu.” Sehun langsung memasak spagetti itu dan tak lama kemudian spagetti itu sudah matang. Ia mencicipi sedikit masakannya. Kepalanya manggut-manggut sebentar. Ia menuangkan masakan itu di piring besar. Ia membalikkan dan saat itu pula ia mendapati Nana tengah tersenyum lebar dengan kedua tangannya menyangga dagunya.

 

OMO!” pekik Sehun tertahan. Kevin langsung menoleh kearah Sehun kemudian sosok yang ada dikursi makan yang tengah menyangga dagu.

 

Nana tersenyum lebar, “Morning guys? What are you doing?” sapa Nana ceria. Sehun tersenyum tipis. Kevin menyeringai lalu berbisik pada pria bertubuh tinggi tegap disebelahnya.

 

“Sehun-ah… apa kau sudah menjadi perkasa?” tanya Kevin berbisik. Sehun mengeryit bingung mencerna kalimat yang diucapkan lalu menoleh pada Kevin namun beberapa detik kemudian Sehun tergelak tawa seraya merangkul bahu Kevin dengan salah satu tangannya. “Hyung… inginku ya seperti itu—” bisik Sehun menggantung sembari menuding Nana dengan dagunya. “sayangnya gadis itu tak mau. Aku juga tak memaksanya. Walau aku hampir hilang kendali tadi malam saat melihat lekuk tubuhnya.” Lanjutnya.

 

Sedari tadi Nana memincingkan manik hazelnya menatap curiga pada kedua pria yang berdiri didapur itu yang seperti sedang membicarakannya. “Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Nana penasaran. Nana tersenyum miring melihat ekspresi kedua pria itu tengah tersenyum tak jelas. “Sepertinya aku merasa ada hubungannya denganku? Disini… aku menangkap pembicaraan tentang pria.” Koreksi Nana datar.

 

Kevin pun berbalik mematikan kompornya dan Sehun berjalan ke meja makan lalu meletakan sepiring besar berisi spagetti. Ia menatap tak minat spagetti yang tersaji diatas piring. “Aku bosan spagetti, Oh Sehun. Dan bukannya kau suka gnoochi?” tanya Nana memastikan dengan nada malas.

 

Sehun tersenyum miring sambil mengacak puncak rambut Nana lalu duduk di kursi kosong sebelah gadisnya, “kau juga pernah mencoba spagetti buatanku, kan?” tanya Sehun. Nana hanya memutar malas bola matanya.

 

“Rasanya sama saja, Tuan Oh. Aku sudah pernah mencoba masakanmu itu.” Celetuk Nana. “tapi saat itu kau bisa menghabiskan dua porsi.” Sahut Sehun mengingatkan Nana yang pernah menghabiskan dua porsi. “Saat itu aku memang sangat kelaparan, Oh Sehun.” Elak Nana tak mengakui kalau masakan Sehun memang enak.

 

“Bagaimana tadi malam?” tanya Kevin tiba-tiba setelah menaruh masakan diatas meja makan. Kevin dudukan tubuhnya di depan mereka.

 

Nana yang mendengarkan langsung tersedak saat memakan spagetti buatan Sehun sedang pria yang duduk disamping Nana langsung mendelik. Kevin tersenyum miring saat mendengar sanggahan Nana, “Biasa saja. Hanya makan malam. Itu saja.” Sanggah Nana. “Kalau tadi malam saat kalian di—” sahut Kevin terpotong dengan ucapan Nana. “Di restoran?” tanya Nana. Lagi-lagi mengalihkan pembicaraan dan berdalih menutupi malunya.

 

Senyuman misterius dari Kevin semakin lebar. “Lebih bagus kalian hilang kendali dengan begitu aku akan melaporkan kelakuan kalian disini pada orang tuamu, Hwang Nana. Agar mempercepat tanggal pernikahan kalian sehingga aku tak lagi mengurus kekasihmu, Oh Sehun. Yang terus mengeluh dan merana karena merindukanmu. Dengan begitu aku akan lepas tanggung jawab atas dirimu dan Sehun yang akan menggantikan diriku.” Jelas Kevin sedangkan Nana terperangah mendengarnya sembari menoleh kearah Sehun yang hanya asyik memakan sarapan seolah tak mendengar ucapan Kevin.

 

“Inginku ya seperti itu, hyung.” Timpal Sehun membuat Nana menoleh terkejut. “MWO?!!!” pekik Nana. Sehun menoleh pada Nana yang masih menatapnya tak percaya. “Memilikimu seutuhnya.” pangkas Sehun.

 

Nana masih tak mengubah ekspresinya dan melihat ekspresi Sehun mulai serius. “Hwang Nana.” Panggil Sehun tegas dan dingin sembari mencengkram erat kedua bahunnya. Ia menghembuskan napas panjangnya lalu mengatankan perasaannya, “dengar baik-baik. Aku hanya mengucapkan sekali. Aku mencintaimu, ah… salah… aku malah sangat mencintaimu, aku mencintaimu apa adanya, aku ingin… pikiran, hati, dan terakhir tubuhmu kau berikan seluruhnya padaku sepenuh hatimu. Point ketiga jika kau tak mau melakukannya sekarang itu tak masalah bagiku tapi yang jelas setelah kita menikah kau akan tahu apa kewajibanmu sebagai seorang Nyonya Oh Sehun, kan?” jelas Sehun.

 

Ucapan Sehun semakin membuatnya semakin pusing. “Ah… molla…” sergah Nana langsung bangkit dari duduknya sambil menyampirkan tas rangselnya disalah satu bahunya. “Aku berangkat dulu.” Timpal Nana sambil berlalu sembari membetulkan rangsel itu dikedua bahunya.

 

“Sayang!” Panggil Sehun. pria itu langsung beranjak duduk sambil menyahut jas dan dasinya dikursi itu. “Hyung! Aku harus menyusul Nana. Mian!” ucap Sehun cepat. Kevin yang mendengarkan hanya terperangah lalu mengangguk pelan.

 

Beberapa jam kemudian. Sehun sudah berdiri ditaman Universitas Colombia sesekali ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukan pukul 10.00 am CDT. Ia juga sedari tadi belum melihat Nana. Namun salah satu tangannya membawa bouket bunga mawar merah. Bunga kesukaan Nana.

 

 

Tak menunggu lama, wanita yang ia tunggu pun muncul. Senyuman tipis pun berkembang saat wanitanya berjalan kearahnya dengan tersenyum lebar. “Ohaya, Oppa!” sapa Nana setelah berada disamping Sehun.

 

“Ohayo, chagi.” Sahut Sehun sambil tersenyum tipis. “Bagaimana presentasimu?” Sehun bertanya tentang hasil diskusi kemarin. “Success.” Sahut Nana antusias. Ia menerima bouket mawar merah lagi dari Sehun. “Arigato, nampyeon.” Ucap Nana ceria. Sehun hanya diam memandangi Nana namun pikirannya malah bercabang.

 

Nana memperhatikan perubahan ekspresi kekasihnya dan bertanya, “ada apa? Meetingnya gagal?”

 

Sehun hanya menggeleng pelan sembari menarik Nana kedalam rengkuhannya. Nana yang awalnya terlonjak terkejut pada akhirnya ia tersenyum didada bidang berkemeja putih itu. Sehun semakin mengeratkan renguhannya sembari menenggelamkan kepalanya dibahu sempit itu. “Aku mencintaimu.” Bisik Sehun ditelinga Nana.

 

“Aku tahu itu.”

 

“Aku masih merindukanmu, sayang.”

 

“Naddo.”

 

“Dan hari ini aku harus kembali ke Seoul.”

 

Nana terperangah mendengar Sehun yang terakhir. ‘Kenapa tiba-tiba? Bukannya besok?’ Batin Nana bingung. Sehun semakin mengeratkan pelukannya sembari menghirup tamak aroma tubuh Nana yang memabukan. Nana berusaha merenggangkan pelukannya namun tak di ijinkan oleh Sehun.

 

Hening beberapa saat.

 

Mianhae.” Sehun meminta maaf yang sedari tadi hanya diam memeluk Nana. “Untuk apa?” tanya Nana bingung. Sehun seraya merenggangkan pelukannya. Mengecup dahi Nana penuh kasih sayang dengan durasi lama. Nana tersenyum tipis dengan mata terpejam merasakannya dan beralih dibibir Nana mengecupnya sekilas.

 

“Ada masalah dihotel. Maka dari itu aku harus kembali dan turun tangan langsung.” Nana tersenyum manis dengan salah satu tangannya membelai lembut rahang tajam sang pria.

 

“Kembalilah, Oh Sehun.” Sehun tersenyum mendengarnya Nana malah mendukungnya. “Setidaknya kau sudah menampakan dirimu padaku seperti ini, aku sudah cukup senang.” Imbuh Nana.

 

“Aku harus pergi, sayang.” Pamit Sehun.

 

“Mau kuantar?” tawar Nana. Sehun menggeleng, “tak perlu. Sebentar lagi ada jam lagi, kan? Kau tak boleh membolos.”

 

Nana mengangguk pelan dan Sehun mendaratkan kecupan sayang dibibir Nana. “Jangan lupa kirimi aku bunga, Mr. Oh.” Sehun tersenyum lebar dan mengangguk mantap sembari melangkah menjauh dari Nana sambil melampai tangannya.

 

Na kkanda.”

 

 

 

 

End.

 

 

2 Replies to “[FREELANCE] Sena’s Storyline Troublemaker Couple”

  1. Kerennn minn
    Gregettt deh. Ini critanya bneran udahan,, pdahl kren banget tu sweet banget sehunnya

  2. First comment? Yey,
    Ceritanya bagus thor aku suka, sehunnya romantis badai disini, tp ada beberapa kata yg typo jdi sempet bingung sih. Tp overall bagus kok. Keep writing

Leave a Reply