[FREELANCE] I Choose to be Faithful

Fanfictiom indonesia exo bts wanna one

Tittle : I Choose to be Faithful

 

Main Cast : Yoon Sena (OC), Oh Sehun, and Jung Jaehyun.

 

Author : Choi Heon

 

Genre : Romance

 

Rating : 15+

 

Length : Oneshoot

 

Disclaimer : Semua cerita, setting, karakter, alur, dll adalah milik author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apaapun. Untuk tokoh utama, dan artis lainnya bukan milik author, melainkan milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka masing-masing. Author hanya menggunakan mereka untuk keperluan cerita.

 

 

There are many ways God brings love. Maybe you are one, but you came at the wrong time.

 

Matahari tak henti-hentinya menampakkan senyum cerahnya. Semua orang tampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Jalanan tampak selalu ramai oleh setiap kendaraan yang melintas, para pejalanan kaki pun selalu berlalu lalang disana. Seoul memang merupakan kota yang selalu sibuk.

Seorang gadis sedang menunggu seseorang. Seseorang yang mengisi hatinya 5 tahun belakangan ini. Tepatnya, ia sedang duduk disebuah kursi taman dekat Pengadilan Tinggi Seoul. Ya, kekasihnya memang bekerja dibidang hukum, oleh karena itu dia berada disana. Namun gadis itu tak datang dengan tangan hampa. Ia membawa bekal makan siang untuk kekasihnya. Sena –nama gadis itu- selalu membuatkan bekal untuk kekasihnya apabila ia sedang libur. Kekasih yang sangat pengertian bukan? Ya, itulah Yoon Sena. Tutor sebuah bimbingan belajar terbaik di Seoul dalam bidang study Biologi, yang jatuh hati terhadap seorang Jaksa.

Tiba-tiba ponsel milik Sena berbunyi.

“Halo. Apakah sidangmu sudah selesai ?” Ujar Sena setelah menerima panggilan itu.

“Ya. Baru saja berakhir. Kau ada dimana?” Jawab kekasih Sena, namanya Oh Sehun. Seorang Jaksa yang cukup disegani dibidang hukum, meskipun usianya masih muda.

“Aku ada ditempat biasa.”

“Baiklah, aku akan segera kesana.”

Setelah menerima panggilan itu, Sena tampak mengembangkan senyumnya. Tak sabar bertemu dengan sang pujaan hati. Entah mengapa hatinya selalu menghangat apabila ia akan bertemu dengan Sehun. Sehun sangatlah berpengaruh dalam kehidupan Yoon Sena. “Aku selalu jatuh hati padamu setiap hari”, itulah yang selalu dikatakan Sena setiap melihat wallpaper ponselnya yang merupakan foto Sehun.

Padahal usianya  sudah tidak bisa dikatakan remaja, bahkan 5 tahun lagi ia sudah berusia 30 tahun. Tapi sikapnya dalam hubungan asmara seperti remaja. Yah, mungkin itulah kekuatan ‘Cinta’.

“Yoon Sena!” Panggil sebuah suara yang tadi berbicara dengannya di telepon.

“Hei, kenapa kau cepat sekali sampai disini?” Jawab Sena sembari berlari kepelukan Oh Sehun.

“Aku sudah sangat merindukanmu.” Sehun mengeratkan pelukannya serta mencium dahi gadisnya, dan mereka berpelukan cukup lama.

“Sehun bisa kau lepaskan pelukanmu ini, banyak orang yang menatap kita.”

“Biarkan saja. Mereka memiliki mata yang berfungsi untuk melihat. Itu hal yang wajar.”

“Aish! Tapi aku malu.”

“Untuk apa malu? Kau itu kekasihku, jadi wajar aku memelukmu.”

“Terserah kau sajalah, Jaksa Oh.” Sena pun hanya pasrah, terhadap apa yang dilakukan Sehun. Ini masih belum seberapa dibanding saat Sehun menciumnya didepan banyak orang saat mereka berkencan di sebuah pusat perbelanjaan. Itu merupakan hal memalukan baginya, tetapi ia menyukainya.

Cukup lama mereka melepas rindu dengan berpelukan hampir 5 menit. Padahal baru seminggu mereka tidak berjumpa secara langsung. Bayangkan apabila mereka tidak bertemu selama sebulan. Apakah mereka akan berpelukan selama setengah jam? Atau melakukan hal lain yang lebih mengarah ke ‘adegan dewasa’.

Kini Sena sudah mulai menyuapi makanan yang dibawanya kepada Sehun. Sehun yang merupakan seorang Jaksa yang memiliki kredibilitas yang baik, akan berubah menjadi seseorang yang manja apabila bersama Sena. Lagi-lagi ini merupakan kuasa dari ‘Cinta’.

“Sehun-ah.. apakah kau sedang menangani banyak kasus? Kau terlihat sedikit lebih kurus.”

“Iya. Entah mengapa semakin hari semakin banyak orang yang melakukan kejahatan. Apakah mereka tidak pernah memikirkan dampak dari perbuatan mereka itu? Aku tak bisa berkata-kata untuk para pelaku kejahatan di zaman sekarang. Mereka membunuh karena sakit hati, atau melakukan korupsi padahal mereka sudah kaya raya, bahkan ada yang membunuh orangtuanya karena berselingkuh. Ada-ada saja.”

Tiba-tiba Sena memukul kepala Sehun dengan sendok yang ia pegang.

“Hei, kenapa tiba-tiba memukul kepalaku” Ucap Sehun sembari mengelus-elus kepalanya yang baru saja dipukul Sena.

“Jika tidak ada yang melakukan kejahatan, maka pekerjaanmu itu tidak berguna. Untuk apa ada Jaksa, Hakim, Pengacara, Polisi, dan Badan Penyelidik lainnya jika tidak ada kejahatan. Tugas kalian itu bukannya hanya menangkap para penjahat, tetapi memberikan hukuman yang adil dan membuat pelaku kejahatan jera. Sederhannya kalian itu meminimalisir munculnya pelaku kejahatan dimasa yang akan datang dengan hukuman yang kalian berikan. Mungkin sekarang masih banyak orang yang belum sadar bahwa kejahatan itu seharusnya tidak dilakukan. Jadi, masih banyak yang melakukannya. Oleh karena itu, orang-orang sepertimu masih sangat dibutuhkan didunia ini.”

“Hei, mengapa jadi menceramahiku?” Ujar Sehun, yang kemudian mencubit hidung Sena.

“Habisnya kau itu selalu mengeluh mengenai pekerjaanmu.”

“Apa perlu aku memberikan cermin yang sangat besar untukmu. Beberapa hari yang lalu kau mengeluh bahwa ada orang tua dari murid yang kau didik memarahimu. Katanya kau tidak mengajari anaknya dengan baik yang menyebabkan nilai Biologinya memiliki warna merah.”

“Nilainya merah karena anak itu malas belajar. Dia bahkan hanya masuk dua kali dalam sebulan.”

“Itu adalah tugasmu mendidik anak-anak yang malas menjadi rajin.”

“Hei, mengapa jadi aku yang diceramahi balik.”

Sena menjadi bingung sendiri saat melihat Sehun membuka mulutnya.

“Kenapa kau membuka mulut, ah.. aku lupa sedang memberi makan bayi besar. Sena pun kembali memasukkan sesendok makannya ke mulut Sehun.

 

 

Dua minggu telah berlalu sejak pertemuan di Taman. Sena dan Sehun belum lagi bertatap muka secara langsung dikarenakan Sehun sedang sangat sibuk. Sena pun juga cukup sibuk karena para siswa yang belajar di tempatnya bekerja sudah mulai memasuki Ujian Akhir Sekolah. Jika Sehun sedang istarahat atau punya waktu luang, Sena yang sibuk. Begitu pula sebaliknya.

Sena pun terkadang merasa rindu dengan kekasihnya. Namun mereka hanya bisa berkomunikasi melalui ponsel. Bahkan Sena sering sekali melamun, memikirkan Sehun. Dia memang sangat tergila-gila dengan Sehun. Seperti saat ini, Sena beru saja memberikan pelajaran tambahan kepada seorang muridnya atau biasa disebut Tutorial Service Time (TST).

Saem.. kau sedang memikirkan apa?” Tiba-tiba ada suara yang menyapa daun telinga Sena ditengah kegiatannya memikirkan Sehun.

Sena mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Tampak disebelahnya tengah berdiri seorang siswa yang di bimbingnya, namanya Jung Jaehyun. Murid tingkat 3, di Seoul High School.

“Ah.. ternyata kau Jaehyun-ah.”

Saem.. kau belum menjawab pertanyaanku.” Ucap Jaehyun. Ia pun mengambil posisi duduk di seberang Sena. Jadi, mereka duduk berhadapan yang dibatasi olah sebuah meja.

“Aku hanya sedang memikirkan seseorang.” Jawab Sena. Dia dan Jaehyun memang cukup dekat. Jaehyun merupakan anak yang ramah bagi Sena. Dia tampan, murah senyum, ditambah otak yang cerdas. Jaehyun memiliki semua sifat yang sangat hebat diusianya yang baru menginjak 19 tahun. Dia juga dewasa dalam berfikir dan mengambil keputusan. Itulah sebabnya Sena sering bertukar fikiran dengannya. Menurut Sena kedua orang tua Jehyun telah membesarkan anak mereka dengan sangat baik.

“Apa kau sedang mengalami masa-masa keretakan dalam hubunganmu bersama lelaki itu?” Jaehyun mencoba menerka-nerka apa yang sedang dialami Sena.

“Namanya Sehun. Oh Sehun. Bukan lelaki itu!”

“Mengapa kau menjadi sensitif, saem. Lagipula apalah arti sebuah nama.”

“Hei, nama itu doa dari kedua orang tua. Mereka tidak asal memberikan nama kepada anaknya. Mereka ingin….”

“Ya. Ya. Ya. Aku mengerti.” Jaehyun memotong ucapan Sena. Ia tidak ingin mendengar ceramah Sena dimalam ini. Sena hanya sedikit mendengus, setelah Jaehyun memotong ucapannya.

“Kau tidak pulang?” Tanya Sena

“Aku menunggumu.” Jawab Jaehyun.

“Untuk apa menungguku? Aku bisa pulang sendiri.”

Saem.. belakangan ini ada banyak tindak kejahatan yang terjadi. Tak baik seorang gadis sepertimu pulang seorang diri.”

“Hei, dari zaman kau belum lahir pun sudah banyak kasus kejahatan. Jadi, tak usah menceramahiku mengenai hal itu. Aku pun bisa menjaga diriku. Kau kira aku gadis lemah!”

“Ya. Ya. Ya. Aku mengerti. Nona yang sudah berumur. Ayo kita pulang.” Kini Sena dan Jaehyun mulai berjalan menuju halte bus dan meninggalkan tempat Bimbingan Belajar itu. Sena tak mengindahkan ejekan Jaehyun. Mereka memang sudah seperti kakak-adik. Mereka sering berdebat, sering berselisih paham, namun mereka tidak pernah bermusuhan akibat perdebatan tersebut.

Tapi, mungkin hanya Sena yang merasa bahwa hubungan mereka hanyalah sebatas kakak dan adik. Namun bagi Jaehyun, Sena merupakan gadis yang mengisi relung hantinya. Sudah sejak lama.

Apakah Sena mengetahui perasaan Jaehyun? Ya. Sena tahu, Jaehyun sudah pernah mengutarakan perasaannya. Namun Sena menolaknya dengan halus. “Terima kasih telah menyukaiku. Aku menghargai perasaanmu. Tapi aku sudah memiliki kekasih, dan aku bahagia bersamanya. Jadi, maaf aku tak bisa membalas perasaanmu. Aku yakin kau pasti mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada diriku.” Itulah yang Sena ucapkan setelah Jaehyun mengungkapkan perasaannya.

Lalu, apakah Jaehyun sakit hati? Tidak. Dia masih tetap menjaga perasaanya untuk Sena. Mungkin sampai ia lelah barulah, ia akan merelakan Sena.

 

 

Saem.. jadi bagaimana yang tadi.” Jaehyun kembali memulai pembicaraan.

“Apa?” Sena pura-pura tak tahu arah pembicaraan Jaehyun. Ia tahu Jaehyun ingin membicarakan Sehun.

“Itu.. masalah kau dengan lelaki itu.”

“Sudah kubilang dia punya nama!”

“Baiklah. Jadi, apa kau sedang bertengkar dengan Sehun hyung?”

“Tidak. Aku hanya belum bertemu dengannya selama dua minggu. Hanyalah perasaan rindu saja.”

“Itulah sebabnya kau berhubungan dengannya. Jika kau memilih bersamaku. Aku memiliki banyak waktu untukmu.”

“Hei, aku akan dapat apa jika menjalin hubungan denganmu? Uang saku saja masih meminta dari kedua orang tuamu.”

“Ini karena aku masih belum menghasilkan uang saja. Lihat saja 5 tahun yang akan datang, aku akan menghasilkan banyak uang.”

“Lalu 5 tahun yang akan datang aku akan berusia 30 tahun. Kau pasti tidak akan tertarik lagi denganku. Lagipula, usia kita terpaut cukup jauh. Lebih baik kau mencari gadis lain Jaehyun-ah.

Jaehyun tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sena pun secara refleks ikut menghentikan langkahnya.

“Apakah sesulit itu untuk mencintaiku? Ah.. tidak. Apakah sesulit itu membuka hatimu untukku?” Tanya Jaehyun.

“Aku telah membuka hatiku untukmu. Tapi, sebagai kakak terhadap adiknya.”

“Apakah hanya karena usia? Jadi kau tidak bisa melihatku sebagai seorang lelaki?”

“Tidak. Bukan hanya itu. Kau tampan, cerdas, ramah, dan kau baik. Kau sempurna dimataku. Oleh karena itu kau haruslah mendapatkan seseorang yang lebih tepat untukmu.” Jawab Sena sembari menepuk bahu Jaehyun.

“Bagiku kau orang yang tepat!” Jaehyun tetap pada pendiriannya.

“Lalu, jika aku bersamamu. Bagaimana dengan Sehun? Aku sudah menjalin hubungan dengannya selama lima tahun. Aku tidak akan mungkin melepaskannya. Jika kau memaksakan kehendakmu, aku juga bisa terus memaksakan kehendakku untuk tidak melepaskan Sehun.” Jaehyun hanya menatap Sena. Ia melihat kesungguhan dimata Sena saat mengatakan kalimat tadi. Ia tidak menangkap satu pun kebohongan atau keraguan atas kalimat yang Sena ucapkan tadi.

“Apakah sebesar itu rasa cintamu untuknya?” Tanya Jaehyun.

“Ya. Sehun bagiku bukan hanya seorang kekasih. Ia juga bisa menjadi ayahku atau mungkin ibuku. Ia sudah menjadi pengganti kedua orangtuaku di Seoul. Ia telah menjagaku selama ini dengan sangat baik. Aku juga merasakan ketulusan cintanya. Ia telah mengorbankan banyak hal untuk terus menjagaku di masa yang akan datang. Ia bekerja keras supaya di masa kini dan masa datang aku hanya perlu bergantung padanya. Ia rela bekerja keras untuk mebahagiakanku. Aku tidak mungkin melepaskan seseorang yang sudah berkorban banyak untukku.”

Sena berusaha menjelaskan semuanya malam ini. Ia ingin Jaehyun perlahan melepaskan rasa yang dia miliki. Jaehyun pantas dapat yang lebih baik dari dirinya.

Jaehyun tersenyum. Senyum yang melambangakan bahwa ia benar-benar telah kalah dari seorang bernama Sehun, yang ia kenal sebagai kekasih dari gadis yang ia cintai dan sayangi.

“Baiklah. Aku mengaku. Aku telah kalah. Tapi jangan paksa aku untuk langsung menghilangkan rasa ini. Aku perlu waktu untuk melapaskan rasa ini.” Ujar Jaehyun. Kini Jaehyun menundukkan kepalanya. Ia memandang sepatunya seakan-akan sepatu itu lebih menarik dari Sena.

Sena yang melihat perilaku Jaehyun berpikir bahwa Jaehyun mungkin malu untuk melihatnya lagi. Ia telah Sena tolak. Namun, Sena menangkup kedua pipi Jaehyun. Ia mengakatnya untuk mempertemukan kedua mata mereka.

“Jaehyun-ah lihat aku. Kau sungguh istimewa dan sempurna. Aku yakin Tuhan telah menyiapkan gadis lain yang lebih baik untukmu. Aku sebagai kakakmu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”

Jaehyun hanya tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Sena.

“Baiklah. Ayo kita pulang!” Sena tersenyum Jaehyun mulai kembali ke sifat aslinya.

 

 

“Jadi, anak itu sudah mulai untuk melepaskanmu?” Sehun bertanya kepada Sena. Mereka sedang melakukan video call.

“Ya. Aku mencoba untuk memberikan pengertian kepadanya, bahwa aku hanya mencintaimu.”

“Ah.. mengapa gadisku sangatlah manis setelah mengucapkan kalimat tadi.”

Sehun dan Sena tidak lagi membuka suara. Mereka membiarkan masing-masing hanya menikmati wajah yang terpampang di ponsel keduanya.

“Terima Kaish.” Sehun kembali berucap.

“Untuk apa?” Tanya Sena.

“Karena telah memilih setia padaku. Terima kasih untuk selalu sabar menantiku. Aku berjanji akan memberikan masa depan yang indah kepadamu. Supaya semua penantianmu terbayar lunas. Terima kasih telah menjadi gadisku Yoon Sena.”

“Aku yang harusnya berterima kasih padamu. Terima kasih telah menjagaku dan berkorban banyak hal untuk masa depanku. Ah.. tidak. Untuk masa depan kita berdua. I Love You. Saranghaeyo.” Sena membentuk hati dengan mengatukan ibu jari dan telunjuknya.

I Love You too.. Nado Saranghaeyo.” Sehun berpura-pura memakan hati yang telah diberikan Sena kepadanya.

“Sudah malam. Tidurlah Sehun, besok kita akan bertemu kan. Selamat malam.”

“Selamat malam. Mimpikan aku!”

 

 

Inilah akhirnya, harus aku akhiri. Sebelum cintamu semakin dalam. Maafkan diriku memilih setia. Maafkanlah diriku tak bisa bersamamu. Walau besar dan tulusnya rasa cintamu. Tak mungkin aku membagi cinta tulusmu. Jadi, aku memilih setia.

 

*E.N.D.*

 

Author’s Note : Yeay! Finally! Bisa meluangkan waktu lagi buat nulis.

3 Replies to “[FREELANCE] I Choose to be Faithful”

  1. Lagu di ending nya tu lagunya fatin bukan? Ceritanya sehun jdi jaksa ya *ngebayangin* sekarang lg musim jaksa ganteng deh kayaknya, sehun n sena so sweet bgt jd ngiri. Kasian jaehyun, sini aku hibur *puk puk

Leave a Reply